Thursday, June 17, 2010

Demam Piala Dunia

       Genderang perang World Cup 2010 telah ditabuh. Peluit kick-off telah dibunyikan. Saat yang dinantikan oleh para penggemar bola di seluruh dunia pun telah tiba. Ritual sepak bola akbar yang digelar setiap empat tahun sekali oleh FIFA selalu menebar sihir yang mampu membuat berjuta-juta pemirsa terpaku selama berjam-jam di depan TV.
       Akhir-akhir ini, kaum pria tampak semakin betah tinggal di rumah dan menonton TV. Jika sebelumnya bisa dibilang tidak pernah menonton TV, kini bahkan berebut saluran TV dengan anak-anaknya untuk bisa menonton aksi bola kelas dunia. Sebagian ada yang mengalah, dan memilih menonton bersama di rumah tetangga sekitar bersama para pria lainnya. Sebagian ada juga yang tiap malam rela pergi ke Pasar Gotong Royong di mana Pemerintah Kota mengadakan gelaran NoBar Piala Dunia sambil minum kopi dan berharap mendapat door-prize berupa bola sepak. Banyak dari mereka yang rela "melekan" hingga dini hari hanya untuk menonton tim favoritnya bertanding.
       Media massa dan siaran pun tidak ketinggalan. Koran, televisi, radio, hingga situs pertemanan di dunia maya semacam Facebook dan Twitter pun penuh dengan nuansa bola dan Piala Dunia. Di dunia nyata, jika kita JJS (jalan-jalan sore), kita pasti akan menjumpai banyak anak-anak, remaja, hingga orang dewasa bermain sepak bola, entah itu di stadion, lapangan kosong, halaman sekolah, hingga ke sudut-sudut kampung. Pendek kata, tiada hari dan tiada tempat tanpa sepak bola. Ke manapun kita pergi, image Piala Dunia pasti akan kita jumpai pada saat ini. Piala Dunia benar-benar mampu merubah irama dan pola hidup berjuta-juta orang dalam waktu sekejap.
       Hal yang sama pun terjadi pada instansi-instansi pemerintah serta sekolah-sekolah. Di SMK Negeri 1 Probolinggo, demam bola juga melanda para guru dan staf sekolah. Entah siapa yang memulai, sejak tidak kurang dari 2 bulan yang lalu, para guru dan staf pria rajin bermain bola dihalaman sekolah pada sore hari setidaknya dua kali dalam seminggu. Sesekali mereka mengadakan persahabatan dengan instansi pemerintah lainnya. Minimnya fasilitas sekolah dalam hal sepak bola tidak mampu membendung minat mereka. Dengan bermodal iuran dan bantuan dari sekolah, satu-persatu perlengkapan sepak bola dapat dipenuhi secara swadaya, dari bola sepak hingga ke gawang. Kemampuan olah bola yang pas-pasan pun tidak menjadikan mereka minder. Sekalipun beberapa orang memiliki kemampuan yang cukup bagus, pada umumnya mereka sama sekali tidak mempunyai latar belakang pemain bola. Namun hal itu sama sekali tidak mengecilkan niat mereka untuk berlatih dan berlatih. "Tujuan utama kita hanya untuk menggiatkan olah-raga, serta mengisi waktu luang yang ada dengan kebersamaan untuk meningkatkan solidaritas di antara para guru dan karyawan sekolah," kata salah seorang dari mereka.
       Jika kita cermati, fenomena gila bola semacam ini sebenarnya cukup menggembirakan dan patut mendapat dukungan, baik moral maupun finansial. Sesuai dengan motto "Mengolahragakan Masyarakat, dan Memasyarakatkan Olah Raga", Pemerintah sudah seharusnya memberikan perhatian yang lebih besar kepada kegiatan-kegiatan dan perkumpulan-perkumpulan olah-raga. Selain dapat menumbuhkan minat berolah-raga di tengah-tengah masyarakat, kegiatan seperti ini pada gilirannya akan menghasilkan para anak bangsa yang sehat, berjiwa sportif, dan berprestasi. Semoga.

Related Articles:

0 comments:

Post a Comment