Sunday, June 6, 2010

Mati Lemas Di Dalam Sumur - Mengapa Bisa Terjadi?

Masyarakat Probolinggo tadi pagi (05/06) dikejutkan oleh berita tewasnya 3 orang penduduk di Wonomerto di dalam sumur yang terletak di sawah setempat. Menurut berita yang dilansir surat kabar setempat, salah seorang dari mereka awalnya dimintai bantuan untuk membetulkan diesel yang rusak. Namun, setelah korban pertama masuk ke dalam sumur dan tidak juga keluar setelah beberapa lama, salah seorang temannya menyusul. Dia mendapatkan temannya tidak bergerak di dalam sumur dan berniat untuk menyusul masuk. Tapi apa daya, korban kedua juga langsung tewas begitu memasuki sumur. Begitu pula korban ketiga yang menyusul kemudian.

Kecelakaan tragis semacam ini sudah sering kita dengar. Bahkan pernah hingga memakan 7 korban jiwa sekaligus. Seolah para korban tidak menyadari bahwa maut telah menanti mereka di dasar sumur yang tampak tenang dan tidak berbahaya. Bahaya apakah sebenarnya terdapat di dasar sumur, atau lubang-lubang galian yang cukup dalam lainnya?

Mati lemas di dalam sumur umumnya disebabkan oleh tidak cukupnya kadar oksigen untuk bernapas bahkan mungkin sama sekali tidak terdapat oksigen. Ketiadaan oksigen bisa terjadi apabila di dalam sumur berlangsung proses pembusukan bahan-bahan organik seperti sampah organik basah atau daun-daun, jamur yang membusuk atau hewan yang mati. Oleh mikroba, baik yang aerob dan yang anaerob, bahan organik yang mati akan diuraikan menjadi pelbagai macam gas setelah melalui beberapa tahap proses penguraian . Gas yang dihasilkan dari penguraian bahan organik itu diantaranya karbondioksida (CO2), hidrogensulfida (H2S yang baunya busuk), amonia (NH3), metana (CH3) dan sebagainya. Umumnya yang paling dominan ialah terbentuk gas karbondioksida.

Sedangkan gas racun mematikan yaitu karbonmonoksida (CO) berasal dari gas buangan pompa air yang menggunakan bahan bakar minyak. Biasanya pompa motor ini dimaksudkan untuk menguras air di dalam sumur sebelum pekerjaan membersihakan, memperdalam dasar sumur atau memperbaiki pompa dimulai. Yang paling fatal ialah apabila pompa motor itu dihidupkan di dalam sumur. Keracunan atau kematian akan terjadi dalam waktu relatif singkat tergantung dari kadar gas CO yang terdapat di dalam sumur. Gas monoksida punya sifat tidak berbau dan tidak berwarna. Terjadinya kematian di dalam sumur gali yang disebabkan oleh kekurangan oksigen atau adanya gas racun, tidak bergantung dari dalam atau dangkalnya sebuah sumur.

Yang paling berbahaya adalah gas yang disebut Hydrogen Sulfida (H2S), yang merupakan gas beracun yang amat berbahaya. Dalam waktu singkat gas ini bisa melumpuhkan sistem pernafasan dan dapat mematikan orang yang menghirupnya. Pada konsentrasi rendah, H2S memiliki bau seperti telur busuk. Namun pada konsentrasi tinggi, bau telur busuk tidak tercium lagi, karena secara cepat gas H2S melumpuhkan sistem syaraf dan mematikan indera penciuman.

Gas H2S bersifat ekstrim racun yang menempati kedudukan kedua setelah hydrogen sianida (HCN), dan sekitar lima kali lebih beracun dari karbon monoksida (CO). Gas H2S sangat berbahaya jika terhirup masuk ke saluran pernafasan. Jika jumlah gas H2S yang terserap ke dalam sistem peredaran darah melampaui kemampuan oksidasi dalam darah, akan menimbulkan keracunan terhadap sistem syaraf. Setelah itu secara singkat segera diikuti terjadinya sesak nafas dan kelumpuhan (paralysis) pernafasan pada konsentrasi tinggi.

Jika penderita tidak segera dipindahkan ke ruangan berudara segar dan diberikan bantuan pernafasan maka akan segera terjadi kematian akibat kelemasan (asphyxiation). Pengaruh gas H2S pada konsentrasi rendah mengakibatkan terjadinya gejala pusing, mual, rasa melayang, batuk-batuk, gelisah, mengantuk, rasa kering, serta nyeri di hidung, tenggorokan, dan dada.

Gas H2S pada konsentrasi rendah (0,025-25 ppm) akan tercium seperti bau telur busuk yang memberikan peringatan kepada seseorang yang berada di lingkungan tersebut untuk segera lari meninggalkan tempat tersebut dan segera menggunakan alat bantu pernafasan. Penginderaan merupakan sistem peringatan diri yang penting dan sangat membantu untuk menyelamatkan diri. Karena jika konsentrasi gas H2S terus meningkat di atas 25 ppm akan dapat mematikan indera penciuman dan korban mulai tidak sadarkan diri.

Sebenarnya kecelakaan yang mengakibatkan korban tewas di dalam sumur tidak perlu terjadi jika masyarakat selalu waspada terhadap bahaya yang mengancam.

Sumber:

Related Articles:

0 comments:

Post a Comment