Sunday, April 17, 2011

"Indonesia Raya" Versi Tiga Stanza Lebih Menggugah?

Suatu pagi, saat iseng mendengarkan MP3 Indonesia Raya 3 Stanza, saya merasa tertarik saat mengetahui lagu kebangsaan kita ini ternyata memiliki versi lain yaitu 3 stanza yang lebih lengkap. Selain Stanza 1 seperti yang kita kenal sekarang, masih ada dua (2) Stanza lagi. Berikut ini Lirik modern Indonesia Raya hasil Google Search dari http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia_Raya

INDONESIA RAYA

I. Indonesia tanah airku,
Tanah tumpah darahku,
Di sanalah aku berdiri,
Jadi pandu ibuku.

Indonesia kebangsaanku,
Bangsa dan tanah airku,
Marilah kita berseru,
Indonesia bersatu.

Hiduplah tanahku,
Hiduplah neg'riku,
Bangsaku, Rakyatku, semuanya,
Bangunlah jiwanya,
Bangunlah badannya,
Untuk Indonesia Raya.

II. Indonesia, tanah yang mulia,
Tanah kita yang kaya,
Di sanalah aku berdiri,
Untuk s'lama-lamanya.

Indonesia, tanah pusaka,
P'saka kita semuanya,
Marilah kita mendoa,
Indonesia bahagia.

Suburlah tanahnya,
Suburlah jiwanya,
Bangsanya, Rakyatnya, semuanya,
Sadarlah hatinya,
Sadarlah budinya,
Untuk Indonesia Raya.

III. Indonesia, tanah yang suci,
Tanah kita yang sakti,
Di sanalah aku berdiri,
N'jaga ibu sejati.

Indonesia, tanah berseri,
Tanah yang aku sayangi,
Marilah kita berjanji,
Indonesia abadi.

S'lamatlah rakyatnya,
S'lamatlah putranya,
Pulaunya, lautnya, semuanya,
Majulah Neg'rinya,
Majulah pandunya,
Untuk Indonesia Raya.

(Refrain:)
Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Tanahku, neg'riku yang kucinta!
Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Hiduplah Indonesia Raya.


Kita bisa melihat bahwa Stanza pertama bernafaskan persatuan, stanza kedua bernafaskan rasa syukur kepada Tuhan YME dan ketiga janji untuk menjaga Indonesia tetap abadi. Menurut saya pribadi, Stanza 2 dan 3 memiliki makna yang lebih menekankan pada pembangunan akhlak dan budi pekerti, serta jauh lebih menyentuh daripada Stanza 1 yang selalu kita nyanyikan selama ini. Ada beberapa potong kalimat atau bait yang menurut saya teramat sayang untuk dilupakan begitu saja. Misal, pada Stanza 2.
"Indonesia, tanah yang mulia,
Tanah kita yang kaya,
Di sanalah aku berdiri,
Untuk s'lama-lamanya."
Bait ini mengingatkan kita bahwa negara kita adalah negara yang kaya. Adalah suatu ironi jika sampai sekarang sebagian besar rakyat kita masih hidup di bawah garis kemiskinan, dan sebagian lagi harus mengais rejeki hingga ke negri orang. Saya bertanya-tanya, jika selalu kita nyanyikan sampai sekarang, mampukah bait tersebut menggugah semangat kita untuk berjuang dengan lebih keras demi menghapus kemiskinan di negeri kita yang tercinta ini, tanpa harus lari ke negeri orang hanya untuk mencari sesuap nasi?

Masih di Stanza 2:
"Indonesia, tanah pusaka,
P'saka kita semuanya,
Marilah kita mendoa,
Indonesia bahagia."
Bait ini mengingatkan kita bahwa tanah-air kita adalah pusaka bagi seluruh rakyat Indonesia, bukan milik sebagian kalangan tertentu saja. Kekayaan alam harus diolah sebagai "pusaka" bagi seluruh rakyat, bukan untuk dimanipulasi para pejabat demi kantong dan perut sendiri. Bait ini juga mengingatkan kita sebagai umat beragama untuk selalu berdoa kepada Allah SWT. Lagi-lagi saya bertanya-tanya dan berandai-andai. Andai selalu kita nyanyikan, mungkinkah bait di atas menyadarkan para pejabat kita agar bersikap amanah dalam mengelola kekayaan negara demi kesejahteraan rakyat? Di satu sisi, rakyat sebagai umat beragama juga menjadi lebih santun dan arif ketika menghadapi suatu masalah dan menghindari cara-cara anarki seperti yang selama ini sering kita lihat dalam berbagai unjuk rasa.

Resapi juga lirik bait ketiga:
"... Sadarlah hatinya,
Sadarlah budinya,
Untuk Indonesia Raya."
Lirik di atas sangat pas dengan kondisi bangsa kita selama ini. Meski akhir-akhir ini pengintegrasian budi pekerti dalam kurikulum pembelajaran di sekolah semakin berkembang, betapa seringnya kita meninggalkan budi-pekerti dari perilaku kehidupan sehari-hari? Saya jadi teringat betapa banyak kasus, mulai dari kejahatan perbankan tingkat tinggi, perpajakan, hingga pungli di terminal dan jalanan yang sebenarnya berawal dari hilangnya kesadaran diri sebagai mahluk Allah SWT, serta semakin punahnya budi pekerti dalam perilaku keseharian kita. Kenyamanan dan kemewahan hingga tuntutan kehidupan modern rupanya telah benar-benar membutakan kita, sehingga kita lupa ke mana kita akan berpulang nanti. Dan ... lagi-lagi saya berandai-andai, andai kita selalu menyanyikan bait di atas, mampukah sepotong bait itu menggugah kesadaran kita sebagai manusia beragama yang selalu mengedepankan etika dan budi pekerti dalam berperilaku?

Bait ketiga dalam Stanza 3:
"S'lamatlah rakyatnya,
S'lamatlah putranya,
Pulaunya, lautnya, semuanya, ...."
Kalimat tersebut adalah doa tulus yang terpanjat demi keselamatan rakyat Indonesia, pulau-pulau serta laut dan kekayaan alam Indonesia dari segala ancaman dan marabahaya. Betapa banyak bencana, mulai dari lumpur Lapindo hingga banjir bandang yang berawal dari kelalaian dan keserakahan kita dalam mengelola sumber daya alam? Ratusan hektar hutan telah habis digunduli oleh para mafia kayu, yang tingkat kerakusannya jauh melebihi binatang bernama rayap yang paling rakus sekalipun. Ratusan rumah juga telah tenggelam di dasar danau lumpur yang berawal dari kelalaian pengelola bisnis yang ingin menekan biaya instalasi tanpa memikirkan dampak bagi lingkungan sekitar. Juga karena kelalaian kita, pulau Sipadan dan Ligitan terlepas dari pangkuan ibu pertiwi. Dan sekali lagi dan lagi ... saya berandai-andai, andai saja kita selalu menyanyikan Stanza 3, akan "lebih" selamatkah rakyat dan negara kita?

Dalam teori motivasi, kita mengenal adanya The Power of Repetition, yaitu sesuatu hal yang diucapkan berulang-ulang sebagai affirmatif atau penguatan bagi dirinya dan diharapkan menjadi drive untuk mencapai suatu sasaran, seperti yang dilakukan perusahaan-perusahaan di Jepang pada umumnya untuk meningkatkan kinerja. Bukankah lagu kebangsaan Indonesia Raya yang kita nyanyikan berulang-ulang hampir di setiap upacara seharusnya bisa menjadi pendorong untuk memperbaiki akhlak dan budi pekerti bangsa kita?

Related Articles:

0 comments:

Post a Comment