Friday, August 26, 2011

Mudik - Haruskah Tujuan Mulia Membahayakan Jiwa?

Bagi mereka yang beragama Islam dan dibesarkan di Indonesia, lebaran pasti menyisakan sederet kenangan indah masa kecil. Keceriaan dan kegembiraan sebagai anak-anak dalam menyambut Idul Fitri bersama teman-teman sebaya dan keluarga di kampung halaman cenderung akan membekas sepanjang hidup. Sehingga tidak afdol rasanya jika lebaran harus berlalu di tanah rantau jauh dari orang-tua dan sanak-saudara.

Rasa inilah yang mendorong para perantau untuk pulang-kampung, mudik, atau ber-holiday travel ke kota kelahiran setiap lebaran Idul Fitri tiba. Niatan mulia untuk sungkem di pangkuan ayah dan ibu, atau sekedar berziarah ke makam mereka bila mereka telah meninggal, lalu bersilaturrahim dengan sanak-saudara, telah menjadi motivator handal yang mampu menggerakkan jutaan manusia meninggalkan kota tempatnya bekerja, pulang ke kampung halaman. Hampir semua orang, apapun statusnya, seolah tidak ingin melewatkan lebaran tanpa mudik. Mudik, sebagai sebuah proses untuk menelusuri dan mengikatkan diri kepada akar sosial kita, mungkin telah mencapai makna terluasnya, dan menjadi kebutuhan jiwa yang harus dipenuhi setiap tahun.




Budaya Mudik, yang telah menjadi ritual unik di Indonesia, bukanlah tanpa pengorbanan. Dana yang relatif besar harus dikeluarkan. Jarak ratusan bahkan ribuan kilometer harus ditempuh. Bahaya dan resiko kecelakaan pun mengintai di balik kelelahan fisik dan kelalaian di sepanjang perjalanan. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), sebanyak 702 orang meninggal, 1.646 luka berat, dan 1.697 orang luka ringan dalam kecelakaan lalu-lintas selama arus lebaran 2009. Sementara, pada tahun 2010, jumlah korban kecelakaan menurun secara signifikan menjadi 328 korban tewas, 438 luka berat, dan 892 korban luka ringan.



Menyedihkan bukan? Harus sedemikian banyakkah kerugian serta nyawa yang terenggut sia-sia demi niatan mulia untuk berkumpul bersama keluarga? Alangkah bijaksananya jika kita selalu mengutamakan keselamatan dalam perjalanan dan selama mudik, ketimbang harus membahayakan nyawa diri sendiri serta orang-orang yang kita cintai.

Jika menggunakan kendaraan pribadi, kita harus memeriksa kondisi kendaraan kita sebelum memulai perjalanan. Sudah layak dan amankah kendaraan kita untuk menempuh perjalanan jauh? Pastikan bahwa ban, lampu-lampu, aki, hingga mesin dalam kondisi baik. Setelah itu, periksalah kelengkapan berkendara, mulai dari SIM, STNK, sepatu, jaket, dan helm bagi pengendara motor. Hindarilah mengangkut beban atau penumpang yang berlebihan hingga melampaui batas keamanan. Terlebih lagi jika kita membonceng anak kecil. Pastikan bahwa anak anda berada dalam posisi yang terlindung dan aman. Sedapat mungkin, hindarilah meletakkan anak di depan pengemudi motor. Dalam posisi begitu, tanpa disadari, anak seolah-olah menjadi "tameng" atau "perisai" yang melindungi sang ayah dari terjangan angin, atau jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Saat berkendara, tetaplah waspada dengan memperhatikan kondisi jalan, lalu-lintas, serta rambu-rambu lalu-lintas. Jagalah selalu etika dan kesopanan dalam berkendara, dan jangan mudah terpancing oleh pengendara yang agresif atau provokatif. Ingat. sebagian besar kecelakaan terjadi akibat kelalaian dan kecerobohan para pemakai jalan.

Yang tidak kalah pentingnya, perhatikan kondisi tubuh kita. Berkendaralah jika tubuh memang fit untuk berkendara. Berhentilah untuk beristirahat di tengah perjalanan jika tubuh sudah menunjukkan gejala kelelahan atau mengantuk. Sebagaimana kendaraan kita, tubuh juga memiliki hak untuk beristirahat. Jagalah shalat dan jangan tinggalkan doa. Saat shalat, kita memberikan kesempatan bagi syaraf dan otot tubuh untuk kembali rileks. Doa juga terbukti ampuh untuk mendinginkan pikiran yang tegang.
Doa Rasulullah SAW sebelum melakukan perjalanan:
Allaahumma innii as'aluka fi safarii hadzaa minal birri wat-taqwaa, wa minal amali wa tardhaa. Allaahumma hawwin alainaal masiira wathwi annaa bu'dal ardhi. Allaahumma antash-shaahibu fis-safar wal khaliifatu fil ahli. Allaahummash-habnaa fi safarinaa wahlufnaa fi ahlinaa.
Yaa Allah. Sesungguhnya kami memohon kepadamu kebaikan dan ketakwaan dalam perjalanan ini, dan dari segala perilakuku di bawah keridhaan-Mu. Yaa Allah, tuntunlah dan mudahkanlah perjalanan kami ini, dan singkatkanlah perjalanan kami yang jauh. Yaa Allah, Engkaulah pemilik perjalanan kami, dan penguasa di bumi ini. Yaa Allah, aku memohon perlindungan-Mu dari bencana dan kesusahan perjalanan, dan dari pandangan yang tercela, serta dari segala bencana dalam keluargaku.
Mudik adalah tentang sebuah budaya mulia, niat sederhana untuk kembali kepada "jati diri" asli kita. Selamat mudik. Semoga selamat sampai tujuan, dan semoga Allah selalu melindungi kita. Amin.

Related Articles:

0 comments:

Post a Comment