Friday, October 14, 2011

"Ndeso" - Sebuah Stigma Yang Kontra Produktif


Pernah mendengar istilah "ndeso", alias "ndesit"? Istilah berbau diskriminatif yang bermakna "dari desa" atau "seperti orang desa" ini pernah populer pada dekade 1980-an. Belakangan, istilah "ndeso" menjadi populer lagi setelah seorang pelawak terkenal muncul dalam sebuah iklan terbaru penyedia layanan telekomunikasi di televisi. Dalam iklan tersebut, sang pelawak dengan nada mencemooh mengatakan "ndeso" kepada mereka yang belum tahu tentang internet. Tidak cukup di situ, tayangan iklan tersebut ditutup dengan kata-kata "Yang punya rumah ini artis! Mukamu ndeso!". Entah apa maksud mereka dengan kata "ndeso". Yang jelas iklan tersebut memberikan kesan bahwa istilah "ndeso" memiliki konotasi negatif, yaitu semacam gaptek, atau ketinggalan jaman.

Masih "Ndeso"kah "Ndeso"?

Berbicara tentang istilah "desa", pasti kita akan membayangkan suatu daerah atau wilayah yang tentram, damai, jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Lingkungan pedesaan identik dengan lingkungan yang masih alami dan hanya sedikit tersentuh oleh pembangunan, dengan penduduk yang hidup dalam keluguan, kesederhanaan, dan kekeluargaan yang jarang kita temui pada masyarakat perkotaan.

Bagaimana dengan istilah "ndeso"? Masih tepatkah jika kita menggunakan istilah "ndeso" untuk mengacu pada kebodohan, keterbelakangan, atau ketertinggalan informasi?

Di era kemajuan teknologi informasi seperti sekarang, akses terhadap informasi tidak lagi menjadi monopoli masyarakat perkotaan. Kita seringkali mendengar istilah "desa net", "desa internet", atau "cyber village", yang mengacu pada suatu wilayah desa atau pedesaan di mana penduduknya secara bergotong-royong membuat server wifi agar masyarakat sekitar bisa mengakses internet. Kehadiran warnet serta berbagai penyedia jasa internet juga sudah merambah ke desa-desa. Keberadaan handphone dan televisi juga bukan merupakan hal yang asing lagi bagi masyarakat desa.

Suka atau tidak suka, wajah pedesaan di Indonesia telah banyak berubah. Berbagai pengertian ilmiah untuk mendefinisikan istilah "desa" tidak lagi dapat diterapkan secara universal untuk desa-desa di Indonesia. Keterkaitan erat antara perkembangan kota dengan desa di sekitarnya telah menciptakan kondisi yang sangat beragam antara satu desa dengan desa yang lainnya. Seiring berkembangnya peradaban, perbedaan yang jelas antara desa dan kota bahkan hampir tidak tampak lagi. Karena itu pengertian dan karakteristik yang mendefinisikan istilah "desa" sepertinya menjadi tidak berlaku lagi di era modern seperti sekarang ini.

Gambar di samping menunjukkan proses pembelajaran di sebuah sekolah dasar di daerah pedesaan. Laptop sebagai produk kemajuan teknologi telah digunakan sebagai media pembelajaran tidak saja di sekolah-sekolah perkotaan, tapi juga di pedesaan. Kualitas pembelajaran di sekolah pedesaan di masa sekarang hampir bisa disejajarkan dengan sekolah perkotaan. Jangan heran jika ada SMA swasta yang terletak di daerah pedesaan di sebuah kabupaten mampu mencetak segudang prestasi tingkat nasional dan setiap tahunnya berhasil mengantarkan tidak kurang dari 90% lulusannya memasuki PTN-PTN favorit di Indonesia. Beberapa diantaranya bahkan memenuhi syarat untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi luar negeri. Sekarang, masihkah kita ngotot bahwa istilah "ndeso" identik dengan kebodohan, keterbelakangan, dan keterbatasan informasi?

Meskipun pemakai istilah "ndeso" mencoba berkelit dengan mengatakan bahwa istilah "ndeso" hanya merupakan sebutan bagi orang-orang yang gaptek, istilah "ndeso" masih tidak tepat dan terlalu mengada-ada. Kegaptekan adalah muara dari keterbatasan akses terhadap kemajuan teknologi, yang bisa saja disebabkan oleh masalah ekonomi, misal tidak mampu membeli komputer, handphone, atau layanan internet. Masih banyak orang yang tidak memiliki kesempatan untuk menikmati kemajuan teknologi informasi karena faktor ekonomi sekalipun mereka tinggal di daerah perkotaan. Maka tidaklah adil jika kita memberi label "ndeso" kepada orang-orang seperti ini, yang tidak mampu menikmati kemajuan teknologi karena tidak adanya kemampuan untuk membelinya.


Stigmatisasi "Ndeso" dan Dampaknya

Pemberian julukan atau labelling "ndeso" inilah yang disebut sebagai stigmatisasi. Stigmatisasi adalah penggunaan stereotype atau penanda bagi suatu kelompok atau seseorang. The Free Dictionary mendefinisikan stigma sebagai tanda pembeda bagi kerendahan sosial. Wikipedia menjelaskan bahwa stigma dari bahasa Yunani berarti tanda (bekas bakaran atau torehan) pada tubuh seseorang yang menandakan bahwa orang itu adalah budak, penjahat, atau pengkhianat, yang cacat moralnya dan karena itu harus dihindari, khususnya di tempat umum. Stigma adalah ‘tanda’ yang digunakan untuk menyudutkan mereka yang menyandang ‘tanda’ itu.

Pertanyaan yang timbul adalah mengapa harus menggunakan istilah "ndeso" yang identik dengan "dari desa" atau "seperti orang desa"? Apakah "wong ndeso" atau orang desa selalu merupakan orang-orang terbelakang, tidak berkembang, dan tidak mengikuti perkembangan teknologi? Mengapa tidak "Katrok", "Kutrik", atau apapun namanya demi menghindari stigmatisasi terhadap desa atau orang desa?

Patut disayangkan jika pemanfaatan kebebasan berekspresi dalam era "bebas" ini sampai "mencederai" harga diri dan martabat suatu kelompok, dalam hal ini masyarakat pedesaan, dengan mengidentikkan mereka dengan keterbelakangan dan ketertinggalan. Sebagai bagian dari masyarakat, pihak media massa seharusnya merasa ikut bertanggung-jawab dalam memberikan tayangan yang mendidik kepada rakyat. Mereka harus mampu memaknai kebebasan berekspresi sebagai kebebasan yang bertanggung jawab dengan selalu memperhatikan dan menghormati hak asasi orang lain, dalam hal ini hak untuk dihargai.

Di saat pemerintah tengah berjuang untuk memberdayakan masyarakat pedesaan, maka stigma "ndeso" bisa menjadi sangat destruktif dan kontra-produktif. Stigma "ndeso" akan semakin menyelubungi berbagai ketidakpahaman tentang masyarakat desa, mempersempit sudut pandang, dan pada gilirannya akan memunculkan penilaian yang buruk terhadap orang pedesaan. Stigma 'ndeso' akan bermuara pada pemahaman yang salah, ketidakpercayaan terhadap "wong ndeso", generalisasi atau penyeragaman, ketakutan dianggap "ndeso", perasaan malu karena berasal dari "ndeso", kebencian, bahkan sikap penyingkiran dan diskriminatif terhadap orang (yang dianggap) "ndeso".

Meskipun stigma tidak lagi bersifat fisik dan hanya berupa metafor berbentuk bunyi yang dikumandangkan ke dalam bahasa, stigma akan masuk ke kepala dan hati, membentuk persepsi, sikap dan prilaku. Stigma adalah salah satu pembelenggu pikiran. Jika dibiarkan hidup dan berkembang di alam pikiran kita, stigma akan menjadi api kebencian yang siap disemburkan kepada setiap sosok yang menjadi sasaran.

Karena itu, hilangkan stigma apapun, kecuali kita sengaja memenuhi pikiran kita dengan sampah bernama stigma yang membuat pikiran tidak dapat berkembang. Tidaklah penting apakah anda berasal dari desa atau kota, apakah anda "ndeso" dengan gaya hidup "ndesit" atau "ngutho" dengan gaya hidup "nguthit". Yang lebih penting adalah apa yang bisa kita lakukan agar membawa manfaat bagi masyarakat sekitar kita.
Aku bangga jadi orang desa. Salam dari desa. :)
Updated Oct 17, 2011

Related Articles:

0 comments:

Post a Comment