Saturday, May 21, 2011

Buku Sekolah Elektronik (BSE) SMA Kelas XII

BSE di halaman ini: Aktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia, Program Bahasa - Adi Abdul Somad, Aminudin, Yudi Irawan; Aktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia, Program IPA / IPS - Adi Abdul Somad, Aminudin, Yudi Irawan; Bahasa dan Sastra Indonesia, Program Bahasa - Muhammad Rohmadi, Yuli Kusumawati; Bahasa dan Sastra Indonesia, Program IPA / IPS - Muhammad Rohmadi, Yuli Kusumawati; Interlanguage: Language Study Programme, Jurusan Bahasa - Joko Priyana, Zayin Adib Muhammad, Eka Denis Machfutra; Developing English Competencies, Natural and Social Science Program (Jur. IPA/IPS) - Achmad Doddy, Ahmad Sugeng, Effendi; Matematika: Program Bahasa - Pangarso Yuliatmoko, Dewi Retno Sari S.; Matematika Aplikasi, Program IPA - Pesta E.S., Cecep Anwar H.F.S. Mahir Matematika, Program Bahasa - Geri Achmadi, Dwi Gustanti, Dani Wildan Hakim, Willi Sutanto

Aktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia (Jurusan Bahasa)
Adi Abdul Somad, Aminudin, Yudi Irawan

DOWNLOAD
Aktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia (Jurusan IPA/IPS)
Adi Abdul Somad, Aminudin, Yudi Irawan

DOWNLOAD
Bahasa dan Sastra Indonesia (Jurusan Bahasa)
Muhammad Rohmadi, Yuli Kusumawati

DOWNLOAD
Bahasa dan Sastra Indonesia (Jurusan IPA/IPS)
Muhammad Rohmadi, Yuli Kusumawati

DOWNLOAD
Interlanguage: Language Study Programme (Jurusan Bahasa)
Joko Priyana, Zayin Adib Muhammad, Eka Denis Machfutra

DOWNLOAD
Interlanguage (Jurusan IPA/IPS)
Joko Priyana, Zayin Adib Muhammad, Eka Denis Machfutra

DOWNLOAD
Developing English Competencies (Jurusan IPA/IPS)
Achmad Doddy, Ahmad Sugeng, Effendi

DOWNLOAD
Matematika (Program Bahasa)
Pangarso Yuliatmoko, Dewi Retno Sari S.

DOWNLOAD
Matematika Aplikasi (Program IPA)
Pesta E.S., Cecep Anwar H.F.S.

DOWNLOAD
Mahir Matematika (Program Bahasa)
Geri Achmadi, Dwi Gustanti, Dani Wildan Hakim, Willi Sutanto

DOWNLOAD

Friday, May 20, 2011

Buku Sekolah Elektronik (BSE) SMA Kelas XI

Developing English Competencies: Language Program - Achmad Doddy, Ahmad Sugeng, Effendi; Interlanguage: Language Program - Joko Priyana, Zayin Adib M., Eka Denis Machfutra; Matematika Jurusan Bahasa - Pangarso Yuliatmoko, Dewi Retno Sari S.; Matematika: Program/Jurusan IPA - Nugroho Soedyarto, Maryanto; Mahir Mengembangkan Kemampuan Matematika - Wahyudin Djumanta, R. Sudrajat; Aktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia; Program Bahasa - Adi Abdul Somad, Aminudin, Yudi Irawan; Aktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia; Program IPA/IPS - Adi Abdul Somad, Aminudin, Yudi Irawan; Bahasa dan Sastra Indonesia - Euis Sulastri, Michiel Karatem, Fiorentina Sri W., Margaretha Suharti; Terampil Berbahasa Indonesia; Program Bahasa - Gunawan Budi Santoso, Wendi Widya R.D., Uti Darmawati

Developing English Competencies (Jurusan Bahasa)
Achmad Doddy, Ahmad Sugeng, Effendi

DOWNLOAD
Interlanguage (Jurusan Bahasa)
Joko Priyana, Zayin Adib M., Eka Denis Machfutra

DOWNLOAD
Interlanguage (Jurusan IPA/IPS)
Joko Priyana, Riyandi, Anita Prasetyo Mumpuni

DOWNLOAD
Matematika 11 (Jurusan Bahasa)
Pangarso Yuliatmoko, Dewi Retno Sari S.

DOWNLOAD
Matematika
Nugroho Soedyarto, Maryanto


DOWNLOAD
Mahir Mengembangkan Kemampuan Matematika
Wahyudin Djumanta, R. Sudrajat

DOWNLOAD
Aktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia (Jurusan Bahasa)
Adi Abdul Somad, Aminudin, Yudi Irawan

DOWNLOAD
Aktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia (Jurusan IPA/IPS)
Adi Abdul Somad, Aminudin, Yudi Irawan

DOWNLOAD
Bahasa dan Sastra Indonesia
Euis Sulastri, Michiel Karatem, Fiorentina Sri W., Margaretha Suharti

DOWNLOAD
Terampil Berbahasa Indonesia (Jurusan Bahasa)
Gunawan Budi Santoso, Wendi Widya R.D., Uti Darmawati DOWNLOAD

Wednesday, May 18, 2011

Buku Sekolah Elektronik (BSE) SMA Kelas X

BSE di halaman ini: Aktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia. Aku Mampu Berbahasa Indonesia. Bahasa dan Sastra Indonesia. Developing English Competencies. Interlanguage: English for SMA Grade X.

Aktif dan Kreatif Berbahasa Indonesia
Adi Abdul S., Aminudin, Yudi Irawan

DOWNLOAD
Aku Mampu Berbahasa Indonesia
Kastam Syamsi, Anwar Efendi

DOWNLOAD
Bahasa dan Sastra Indonesia
Sri Utami, Sugiarti, Suroto, Alexander Sosa

DOWNLOAD
Developing English Competencies
Achmad Doddy, Ahmad Sugeng, Efendi

DOWNLOAD
Interlanguage: English for SMA Grade X
Joko Priyana, Virga Renitasari, Arnys Rahayu I

DOWNLOAD

Monday, May 16, 2011

Donald W. Flood – Percakapan Menuju Islam (Part 5 of 5)

Kesan seorang Muallaf
Selama masa pencarianku untuk menemukan kebenaran, pelajaran terpenting yang aku dapatkan adalah bahwa segala macam benda yang dipuja-puja oleh manusia, selain Tuhan, hanyalah ilusi dan angan-angan belaka. Bagi orang-orang yang memiliki kemampuan untuk betul-betul memahami hal ini secara jernih, satu-satunya jalan yang dapat diambil adalah mengarahkan semua kehendak serta perbuatan agar benar-benar menyatu dengan Tuhan. Rasa tawakal atas kehendak Tuhan telah membuatku mampu merasakan kedamaian dihadapan Sang Pencipta, terhadap sesama makhluk Tuhan yang lain, maupun terhadap diriku sendiri. Karena itulah, aku merasa sangat bersyukur, karena atas hidayah dan rahmat Tuhan, aku telah diselamatkan dari jurang kegelapan dan kebodohan, dan mampu melangkah menuju cahaya kebenaran. Islam, yang merupakan agama segala jaman, tempat, dan bangsa, adalah jalan hidup yang lengkap yang membimbing umat manusia dalam mencapai tujuan hakiki dari keberadaannya di dunia ini, dan menyiapkan diri untuk mengarungi hari kemudian saat dia harus kembali kepada Dzat yang telah menciptakannya. Ketaatan dalam mengikuti ajaran Islam akan membawa ridha Allah, dan semakin mendekatkan kita ke haribaanNya di tengah kenikmatan surgawi yang tak pernah berakhir, sekaligus menjauhkan kita dari siksaan api neraka. Keuntungan lain yang akan kita dapatkan jika mengambil pilihan sedemikian rupa adalah bahwa kehidupan dunia ini akan terasa jauh lebih membahagiakan.

Kesenangan Yang Menipu
Memeluk Islam telah membawaku menuju wawasan yang jauh lebih mendalam tentang kehidupan yang sesungguhnya bersifat semu dan menipu ini. Sebagai contoh, salah satu tujuan mendasar dalam agama Islam adalah kemerdekaan umat manusia. Itulah sebabnya mengapa seorang Muslim menyebut dirinya sebagai “Abdullah”, yang bermakna hamba atau pelayan Allah, karena penghambaan kepada Allah menandakan tidak adanya keterikatan terhadap segala bentuk penghambaan yang lainnya. Sekalipun manusia modern menduga bahwa dirinya telah merdeka dan hidup di alam kebebasan, pada kenyataannya dia telah menjadi budak dari hawa nafsu dirinya sendiri. Kebanyakan dari mereka telah tertipu oleh kehidupan duniawi. Banyak manusia mengalami ‘kecanduan’ dalam menimbun harta kekayaan, ‘kecanduan’ seks, kekerasan, minuman keras, dan lain sebagainya. Namun yang sangat memprihatinkan, manusia acapkali tergoda dan terbuai oleh sistim kapitalis yang tumbuh dengan cara menghadirkan kebutuhan semu di tengah-tengah umat manusia, sehingga manusia menduga bahwa kebutuhan palsu tersebut harus dipenuhi dengan segera. Allah berfirman di dalam Al-Qur’an:

“Terangkanlah kepadaKu tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (Al-Furqaan:43-44)

Karena itulah, manusia tidak selayaknya membiarkan kesenangan dan kenikmatan duniawi yang sangat singkat ini melenakan jiwanya, dan menghancurkan peluangnya untuk merasakan kenikmatan surgawi yang luar biasa. Seperti yang telah difirmankan Allah dalam Al-Qur’an:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah: "Inginkah Aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?". untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.” (Al-Imran:14-15)

Maka dari itu, sebenarnya persaingan yang hakiki dalam kehidupan duniawi ini bukanlah sekedar perlombaan menimbun harta atau persaingan demi hasrat popularitas, melainkan saling berlomba-lomba melakukan amal kebaikan demi menggapai ridha Illahi, sambil mencicipi nikmat duniawi yang telah menjadi hak manusia dengan cara yang diridhai Allah.

Jalan Yang Benar Menuju Tuhan
Ada banyak alternatif agama yang bisa dipilih umat manusia dan dia bebas untuk memilih agama yang ingin dianutnya. Dalam hal ini, manusia dapat diibaratkan seperti seorang saudagar yang memiliki berbagai jenis barang dagangan, dan dia bebas untuk memilih barang yang akan diperdagangkan. Dia pasti akan memilih barang yang menurutnya paling menguntungkan. Tetapi, bagaimanapun pedagang tersebut tidak akan bisa memastikan dan tidak pula memiliki jaminan bahwa perdagangannya akan menguntungkan. Produknya bisa jadi memiliki pangsa pasar dan menghasilkan laba yang bagus, tetapi mungkin saja dia akan kehilangan seluruh uangnya dalam sekejap. Sebaliknya, orang-orang (Muslim) yang beriman terhadap keesaan Tuhan dan bertawakal atas kehendakNya benar-benar merasa yakin bahwa apabila mereka mengikuti petunjuk (Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW), maka tidak diragukan lagi akan memperoleh keberhasilan, dan imbalan akan menunggunya di akhir perjalanan. Yang menguntungkan adalah bahwa keberhasilan tersebut akan diperoleh seketika itu juga. Diceritakan oleh Abu Sa’id Al-Khudri r.a., Rasulullah pernah bersabda:

“Apabila seseorang memeluk agama Islam secara ikhlas dan bersungguh-sungguh, maka Allah akan mengampuni semua dosa yang pernah dilakukannya, dan semenjak itu dimulailah perhitungan amal; setiap amal baik akan mendapat imbalan sebesar sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat, sedangkan perbuatan buruk akan dicatat seperti apa adanya, kecuali jika Allah mengampuninya.”

Epilog
Berdasarkan hasil pencarianku untuk menemukan kebenaran, aku akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa jalan keimanan kita kepada Tuhan beserta amal perbuatan yang kita lakukan akan menentukan masa depan kita di akhirat yang kekal. Allah Sang Maha Pencipta telah memberikan peluang yang sama pada kita semua, tanpa memandang keadaan kita, untuk menggapai ridhaNya sebagai bekal dan persiapan Hari Pembalasan. FirmanNya dalam Al-Qur’an:

“Dan taatilah Allah dan rasul, supaya kamu diberi rahmat. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Ali-Imraan:132-133)

Jika kita benar-benar ikhlas dalam mencari kebenaran hidup, yaitu Islam (ketaatan yang tulus terhadap kehendak Tuhan), maka Tuhan akan membimbing kita ke arah sana, Insya Allah. Dia akan menuntun kita agar mempelajari kehidupan serta Sunnah Nabi Muhammad SAW, karena beliau telah menunjukkan contoh nyata yang terbaik dan termulia sebagai panduan dan bimbingan bagi seluruh umat manusia. Lebih jauh lagi, Tuhan akan membimbing kita agar mempelajari dan merenungkan firman-firmanNya dalam Al-Qur’an. Manusia akan menyadari bahwa Al-Qur’an sesungguhnya bagaikan ketukan pintu secara terus menerus dan keras, atau teriakan yang kuat untuk membangunkan mereka yang tengah terlelap dan terlena oleh buaian kehidupan duniawi. Ketukan dan teriakan itu muncul bersahut-sahutan: Bangunlah! Lihat keadaan dirimu! Gunakan akalmu! Pikirkan dan bercerminlah! Tuhan ada dan menunggumu! Bagimu ada takdir, ujian, pertanggung-jawaban, perhitungan, pahala, azab yang pedih, dan kebahagiaan abadi!

Telah jelas dan tegas, bahwa jalan terbaik untuk hidup dan mati di dunia ini adalah sebagai seorang Muslim yang bertakwa. Siapapun yang telah mencapai kesimpulan bahwa Islam adalah kebenaran, dia tidak boleh menunggu lebih lama lagi untuk memeluk Islam karena dia bisa saja akan menemui ajalnya terlebih dahulu, dan saat itu, semuanya sudah terlambat.

Beberapa bulan setelah memeluk Islam, aku menemukan dua ayat dalam Al-Qur’an yang mencerminkan apa yang dikatakan teman Muslimku dari Amerika mengenai bagaimana kita harus hidup dan mati:

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama Ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". (Al-Baqarah:132)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Al-Imraan:102)

(Yahya) Donald W. Flood
Madinah, Saudi Arabia
Juni 1999

Donald W. Flood – Percakapan Menuju Islam (Part 4 of 5)

Musafir
Setelah terus-menerus mempelajari Al-Qur’an dan ucapan serta perbuatan Nabi Muhammad SAW (Sunnah beliau), aku menemukan bahwa agama Islam memandang umat manusia sebagai para musafir kehidupan, dan ‘rumah’ mereka yang sebenarnya adalah akhirat yang kekal. Kita semua berada di sini hanya untuk masa yang amat singkat, dan tidak ada sesuatupun di dunia ini yang dapat kita bawa sebagai bekal selain iman kita kepada Tuhan dan amal perbuatan kita sendiri. Karena itulah, umat manusia tak ubahnya seperti para musafir yang sedang melewati sebuah negeri, namun tidak akan dapat menetap di sana. Sebagai orang-orang yang sedang melakukan perjalanan, kita selayaknya harus menyadari bahwa makna sesungguhnya dari kehidupan adalah ujian. Karena itulah, ada penderitaan, kegembiraan, suka dan duka. Ujian terhadap kebaikan dan keburukan ini semata-mata ditujukan untuk membangkitkan kualitas spiritual yang lebih tinggi. Bagaimanapun, kita tidak akan mampu mengambil manfaat dari ujian tersebut kecuali bila kita berupaya dengan segala kemampuan terbaik kita, serta sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan, dan dengan sabar menerima apa yang telah Dia tentukan bagi kita.

Titian Menuju Surga
Sangatlah bermakna bagi kita untuk mempelajari tentang surga karena surga tentu merupakan tujuan tertinggi bagi setiap umat manusia. Mengenai rumah yang kekal ini, Allah telah berfirman:
“Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (As-Sajdah:17)
Aku juga menemukan bahwa merupakan suatu kenikmatan yang tak terbayangkan dan tiada tara untuk dapat bertemu secara langsung dengan Sang Maha Pencipta. Siapakah gerangan yang berhak memperoleh imbalan sedemikian agungnya? Imbalan berupa surga ini terlalu berharga untuk dibayar dengan harga apapun. Surga akan dapat diraih melalui iman yang sejati, yang dibuktikan melalui ketaatan terhadap Tuhan serta mengikuti Sunnah (tata-cara) Nabi Muhammad SAW.

Umat manusia wajib beribadah kepada Tuhan agar dapat mencapai kemuliaan serta tingkatan iman yang dibutuhkan untuk dapat memasuki surga-Nya. Hal ini berarti bahwa umat manusia harus memahami bahwa ibadah merupakan kebutuhan yang tak dapat diabaikan sebagaimana makan dan bernapas, bukan sebagai suatu bentuk jasa yang mereka lakukan bagi Tuhan. Di samping itu, kita harus membaca Al-Qur’an agar mengetahui seperti apakah manusia yang dikehendaki oleh Tuhan, dan kemudian harus berusaha untuk mewujudkannya. Itulah jalan menuju surga.

Menghadapi Rintangan
Pada titik ini, aku merasa 80% yakin bahwa aku ingin memeluk Islam, namun masih ada suatu hal yang mengurungkan niatku. Aku merasa khawatir dengan reaksi keluarga dan teman-temanku jika mereka mengetahui bahwa aku telah memeluk Islam. Aku segera mengungkapkan kekhawatiran tersebut kepada seorang Muslim, yang kemudian menjelaskan kepadaku bahwa pada hari pembalasan, tidak akan ada seorangpun yang dapat menolong kita, bahkan ayah dan ibu, serta teman-teman kita sekalipun. Karena itu, jika kita telah meyakini kebenaran Islam, bahwa Islam adalah agama yang benar, kita harus segera memeluknya dan hidup di jalan yang diridhai Allah yang telah menciptakan kita. Kini, sudah sangat jelas bagiku bahwa kita semua sama; setiap jiwa pasti akan merasakan kematian, dan kemudian kita akan mempertanggung-jawabkan iman kita kepada Tuhan serta segala amal-perbuatan kita masing-masing.

Sebuah Film Yang Penuh Hikmah
Ketika pencarianku terhadap kebenaran telah mencapai tahap ini, aku telah berada di ambang pintu untuk memeluk Islam. Suatu saat, aku melihat sebuah film pendidikan Islam yang berbicara tentang tujuan hidup. Tema pokok film tersebut adalah bahwa tujuan hidup manusia dapat di rangkum dalam satu kata, yakni ISLAM (yang bermakna ‘kepatuhan yang tulus ikhlas terhadap kehendak Tuhan’).

Yang juga penting untuk diketahui adalah, bahwa istilah ‘Islam’ tidak memiliki sangkut-paut apapun dengan nama orang atau nama suatu tempat tertentu, tidak seperti agama-agama atau keyakinan lainnya. Dalam ayat Al-Qur’an berikut ini, Tuhan sendiri yang telah memberikan nama Islam:
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.....” (Al-Imraan:19)
Semua pemeluk agama Islam akan disebut Muslim tanpa membedakan ras, jenis kelamin, maupun kebangsaan masing-masing. Inilah salah satu alasan mengapa Islam merupakan agama yang universal, agama semesta alam.

Sebelum mencari kebenaran, aku tidak sekalipun pernah secara serius memikirkan Islam sebagai suatu alternatif pilihan, disebabkan adanya pemberitaan negatif tentang umat Islam secara terus menerus di media-massa. Mengenai hal itu, film yang kutonton tersebut mengungkapkan bahwa sekalipun ajaran Islam memberi penekanan pada standar moral yang tinggi, tidak semua umat Islam dapat memenuhi standar moral yang diajarkan oleh Islam. Aku menyadari bahwa hal yang sama juga dapat terjadi pada agama-agama lain. Pada akhirnya, aku mencapai pemahaman bahwa kita tidak bisa menilai suatu agama hanya berdasarkan tindakan maupun perbuatan para pemeluknya saja, seperti yang pernah kulakukan sebelumnya, karena setiap manusia dapat berbuat salah. Dalam hal ini, kita tidak selayaknya menghakimi Islam semata-mata menurut perbuatan umat Islam, melainkan harus berdasarkan kitab wahyunya (Al-Qur’an suci) dan sunnah Nabi Muhammad SAW.

Hikmah lain yang kupetik dari film tersebut berkisar tentang pentingnya rasa syukur. Tuhan berfirman dalam Al-Qur’an bahwa kita harus bersyukur atas penciptaan kita sebagai manusia:
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (An-Nahl:78)
Allah juga berfirman bahwa rasa syukur tidak dapat dipisahkan dari iman, dan telah menjelaskan pula bahwa Dia tidak mungkin akan menghukum hamba-hambaNya apabila mereka bersyukur dan beriman kepadaNya. Dalam Al-Qur’an, Dia berfirman:
“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman?....” (An-Nisaa:147)
Kebenaran Yang Terungkap Dengan Sendirinya
Ketika film tersebut berakhir, aku merasakan bahwa kebenaran yang aku cari selama ini telah kutemukan, terungkap dari tabirnya di dalam jiwaku. Aku merasakan beban dosa yang amat besar terbang lepas dari punggungku. Tidak hanya itu, jiwaku seolah melayang dan membubung tinggi, melepaskan diri dari dunia, tidak lagi terbelenggu oleh kesenangan dunia yang semu dan fana ini, demi sebuah kebahagiaan abadi di hari kemudian. Pengalaman ini, disertai dengan proses pemikiran yang amat panjang, telah menjawab dan memecahkan “teka-teki tujuan hidup”. Kebenaran Islam telah terungkap, dan mengisi hamparan jiwaku dengan iman, tujuan, arah, dan amal perbuatan. Maka dari itu, akupun melangkah memasuki gerbang Islam dengan mengucapkan pernyataan iman sebagai syarat untuk menjadi Muslim:

"Ashhadu an La ilaha Illa Allah wa ashhadu anna Muhammadan Rasulullah."
(Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah)


Aku mendapat penjelasan bahwa pernyataan resmi tersebut juga menegaskan keyakinan seseorang terhadap semua nabi dan utusan Tuhan, termasuk semua kitab-kitab Allah selama masih berada dalam bentuknya yang asli. Karena itulah, syahadat akan memperbarui dan menyempurnakan keyakinan seseorang hingga nabi terakhir (Nabi Muhammad SAW) dan wahyu Tuhan terakhir (Al-Qur’an). Ungkapan penting berikut ini telah menjadi sangat jelas bagiku: Seandainya Yesus (Isa a.s.) adalah utusan Tuhan yang terakhir, dan Injil merupakan kitab wahyu yang terakhir, aku juga akan mendukungnya. Maka dari itu, masuk akal bila aku memilih untuk mengikuti wahyu terakhir dari Sang Pencipta sebagaimana yang diteladankan oleh penutup para nabi, Nabi Muhammad SAW.

Continued to Part 5

Donald W. Flood – Percakapan Menuju Islam (Part 3 of 5)

Nabi Muhammad S.A.W. Dalam Alkitab
Hal yang menarik perhatianku adalah bahwa Injil telah meramalkan kedatangan Nabi Muhammad SAW. Aku menemukan adanya ramalan yang jelas di dalam Injil, (namun teks aslinya telah diubah) yang mengabarkan kedatangan Nabi Muhammad SAW. setelah Yesus. Para cendekiawan Islam juga telah membenarkan bahwa ciri-ciri yang digambarkan oleh Yesus mengenai nabi sesudahnya (dalam ayat di bawah ini) hanya cocok untuk Nabi Muhammad SAW. Lebih jauh lagi, ada sebuah ayat dalam Al-Qur’an yang suci yang menegaskan perkataan Yesus mengenai hal ini.
“Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan Kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad......" (Ash-Shaff:6)
Nama Ahmad adalah nama lain dari Nabi Muhammad dan berasal dari akar kata yang sama.

Nabi Muhammad SAW dalam Al-Qur’an
Aku menemukan bahwa Al-Qur’an menyuruh kita beriman kepada Tuhan dan Nabi Muhammad SAW sebagaimana diungkapkan ayat berikut ini:
“Katakanlah: "Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk". (Al-A’raaf:158)
Aku juga menemukan bahwa Al-Qur’an telah menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW. adalah nabi terakhir.
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi .....” (Al-Ahzab:40)
Sekalipun Tuhan telah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa Muhammad SAW adalah nabi terakhir, umat Islam tetap mengimani dan mengakui semua nabi-nabi sebelumnya, termasuk wahyu yang disampaikan oleh mereka dalam bentuk aslinya.

Al-Qur’an: Wahyu Terakhir
Aku memahami bahwa disebabkan oleh adanya perubahan yang dibawa oleh tangan-tangan manusia terhadap Injil sebagai kitab wahyu Tuhan, maka dibutuhkanlah kedatangan seorang nabi setelah Isa a.s. yang membawa wahyu lain setelah Kitab Injil. Inilah alasan mengapa Tuhan mengutus Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan pesan terakhir, Al-Qur’an, agar membawa seluruh umat manusia kembali menuju iman dan penyembahan terhadap Satu Tuhan, tanpa sekutu maupun perantara. Umat Islam meyakini bahwa Al-Qur’an, yang merupakan sumber tertinggi dan kekal sebagai pembimbing seluruh umat manusia, telah memberikan uraian sejarah yang rasional dan masuk akal tentang peran mulia Yesus. Nama Yesus (Isa a.s.) diabadikan sebanyak duapuluh lima kali di dalam Al-Qur’an, di mana terdapat surat tersendiri bernama Maryam (Maria), yang merupakan nama ibu Yesus (Isa a.s.).

Mengenai keontetikan Al-Qur’an sebagai wahyu Tuhan, aku menemukan ayat Al-Qur’an yang secara tegas menyatakan sebagai berikut:
“Tidaklah mungkin Al Quran ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Quran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.” (Yunus:37)
“Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar kebenaran yang diyakini.”(Al-Haaqqah:51)
Selain itu, aku juga tertarik untuk mengetahui pandangan Al-Qur’an terhadap pemalsuan kitab karena hal itu telah menjadi masalah yang amat besar bagi kitab sebelumnya. Aku menemukan bahwa Al-Qur’an tidak akan pernah bisa diubah maupun dibatalkan:
“Sesungguhnya, Kami-lah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Al-Hijr:9)
Kemudian, aku juga menemukan sejumlah fenomena ilmiah yang tercantum di dalam Al-Qur’an, yang semakin menguatkan keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah kata-kata harfiah dari Tuhan. Ayat-ayat Al-Qur’an telah menjelaskan perkembangan janin manusia, pegunungan, kejadian alam semesta, otak besar manusia, lautan, lautan dalam, serta arus bawah laut dan awan. Sangatlah mustahil bagi manusia, lebih dari seribu empat ratus tahun yang lalu, untuk mengetahui hal-hal yang akhir-akhir ini baru terungkap dan ditegaskan kebenarannya melalui berbagai mekanisme yang sangat maju dan proses ilmiah mutakhir.

Islam: Intisari dan Kulminasi Semua Agama-Agama Samawi
Umat Islam memiliki keyakinan bahwa tujuan pokok dari penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Tuhan. Sebagaimana firmanNya dalam Al-Qur’an:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Adz-Dzariyaat:56)
Berkenaan dengan hal ini, seorang cendekiawan Islam yang terkenal dari Barat mengatakan, “Sistim peribadatan terlengkap yang bisa ditemukan umat manusia di masa kini adalah sistem yang terdapat dalam agama Islam. Nama Islam itu sendiri berarti ‘kepatuhan diri terhadap kehendak Tuhan’. Meskipun pada umumnya dianggap sebagai ‘agama monotheistik yang ketiga’, Islam sama sekali bukanlah agama baru. Islam adalah agama yang diajarkan oleh semua nabi yang telah diutus Tuhan kepada seluruh umat manusia. Islam adalah agama yang diajarkan oleh Adam, Ibrahim, Musa, dan bahkan Yesus sekalipun.”

Selain itu, dia juga mengungkapkan, “Karena hanya ada Satu Tuhan, dan umat manusia adalah satu spesies, maka agama yang dikehendaki oleh Tuhan agar dianut seluruh umat manusia pada dasarnya adalah satu juga. Kebutuhan sosial dan spiritual manusia adalah seragam, dan sifat-sifat dasar manusia juga tidak pernah mengalami perubahan semenjak manusia pertama diciptakan”.

Dengan mengetahui kenyataan bahwa ajaran Tuhan selalu sama, aku sampai pada kesadaran bahwa seluruh umat manusia memiliki kewajiban untuk mencari kebenaran, dan tidak secara membabi-buta menerima begitu saja agama yang dianut oleh masyarakat mereka dan bahkan orang-tua mereka. Menurut Al-Qur’an:
“Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (Yusuf:40)
Mengenai fitrah manusia (yaitu sifat bawaan manusia sejak dilahirkan untuk beribadah kepada Tuhan sebelum ada perubahan sifat yang disebabkan oleh pengaruh-pengaruh luar), Nabi Muhammad SAW telah menegaskan:
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah), lalu orang-tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Sebagaimana binatang melahirkan anak-anaknya dalam keadaan sempurna, adakah kamu dapati bayi-bayi itu terpotong-potong?”
Allah telah berfirman:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Ar-Ruum:30)
Di samping itu, aku juga menemukan bahwa tidak ada agama lain yang mendapat keridhaan Allah selain Islam, sebagaimana yang difirmankan-Nya dalam Al-Qur’an:
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (Al-Imraan:85)
Aku menarik kesimpulan bahwa sebagian manusia mungkin mengabaikan petunjuk Tuhan ini dan membuat pedoman hidup mereka sendiri. Akan tetapi, pada akhirnya nanti dia akan menemukan bahwa semua itu hanyalah semu, tidak lebih dari bayang-bayang yang telah membuatnya tertipu.

Continued to Part 4

Donald W. Flood – Percakapan Menuju Islam (Part 2 of 5)

Mempelajari Kristiani
Meskipun aku dibesarkan sebagai penganut Kristiani, aku selalu merasa bimbang dan tidak tertarik dengan ajaran agamaku sendiri. Aku merasa seolah-olah telah mewarisi suatu agama misterius yang tidak mungkin dapat dipahami. Aku yakin bahwa itulah alasan mengapa hanya namaku saja yang berbau Kristen, namun pada prakteknya tidak demikian. Lebih jauh lagi, keraguanku terhadap keyakinan Kristiani kusadari telah membawaku ke dalam keadaan non-relijius. Sekalipun demikian, dalam masa pencarian kebenaran itulah, aku memiliki kesempatan untuk mempelajari keyakinan yang kuwarisi dari orang-tuaku, yang memang belum pernah kupelajari secara mendalam.

Melalui brosur-brosur, kaset-kaset serta film-film video tentang ajaran Kristen yang dibuat oleh Muslim maupun non-Muslim, aku menemukan kenyataan yang sangat mengejutkan bahwa terdapat ratusan ayat di dalam Injil yang tidak sesuai dan berlawanan dengan ajaran Kristen itu sendiri. Menurut bahan-bahan tersebut, Tuhan ada sebelum Yesus (Isa a.s.). Begitu pula, Yesus (Isa a.s.) ternyata mengajarkan keyakinan terhadap Satu Tuhan. Akan tetapi, setelah masa Yesus, ajaran Kristiani mulai menekankan konsep Trinitas menggantikan Ke-Esaan Tuhan. Juga, menurut Yesus sendiri, Tuhan tidaklah beranak dan tidak mempunyai sekutu. Mengenai dirinya sendiri, Yesus juga menyebutkan bahwa dia adalah utusan Tuhan. Sebaliknya, setelah masa Yesus, ajaran Kristiani mulai menekankan bahwa Yesus adalah anak Tuhan dan bahkan dia adalah Tuhan itu sendiri.

Mengenai monotheisme (keyakinan terhadap Satu Tuhan), bahkan firman pertama dari Sepuluh Firman Tuhan telah membenarkan adanya penegasan Yesus tentang keyakinan terhadap Satu Tuhan.
“Dengarlah, wahai Bani Israel, Tuhan kita adalah Tuhan Yang Satu.”
(Markus 12:29).
Juga, terdapat banyak sekali ayat-ayat Injil yang menolak ketuhanan Yesus. Sebagai contoh, Yesus mengakui dia sendiri tidak mampu melakukan mukjizat apapun, selain atas kehendak dan ijin Tuhan. Yang menarik, dikatakan di dalam Injil bahwa Yesus pernah berdoa. Hal ini membuatku bertanya kepada diri sendiri, “Bagaimana mungkin Yesus adalah Tuhan jika pada saat yang bersamaan dia berdoa kepada Tuhan?” Tuhan yang berdoa jelas tidak masuk akal dan merupakan suatu pertentangan. Di samping itu, Yesus menegaskan bahwa ajarannya tidak berasal dari dirinya sendiri, melainkan dariNya yang telah mengutusnya. Secara logika, apabila ajarannya bukan miliknya sendiri, maka dia hanyalah seorang nabi penerima wahyu Tuhan sebagaimana nabi-nabi sebelum (dan sesudah) dia. Lagipula, Yesus mengakui bahwa dia hanya menjalankan apa yang sudah diajarkan oleh Tuhan. Sekali lagi, aku bertanya-tanya kepada diri sendiri, “Bagaimana mungkin Yesus menerima ajaran dan sekaligus menjadi Tuhan?” Dalam diskusi kami, orang-orang Muslim tersebut membenarkan ajaran Yesus tentang keyakinan terhadap Satu Tuhan, sebagaimana ayat Al-Qur’an berikut ini.
Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.” (Al-Ikhlash:1)

Untuk kesekian kalinya, aku terkejut saat menemukan ayat-ayat Injil yang mengatakan bahwa Yesus adalah utusan Tuhan. Serupa dengan apa yang kutemukan itu, Islam menganggap Yesus sebagai seorang nabi dan utusan Tuhan. Di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Al-masih, putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami); kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat kami itu).” (Al-Maaidah:75)

Keyakinan Kristiani Bahwa Yesus Adalah Anak Tuhan
Menurut Injil, adalah merupakan kebiasaan untuk menyebut utusan Tuhan, atau orang yang bertakwa, sebagai anak Tuhan. Sedangkan, Yesus menyebut dirinya sendiri sebagai anak manusia, bukan Tuhan maupun anak Tuhan dalam arti harfiah. Jelas sekali bahwa Paulus adalah orang yang paling bertanggung jawab atas kenaikan status Yesus menjadi anak Tuhan, karena telah menyimpang dari ajaran Yesus yang sesungguhnya.

Lebih jauh lagi, Yesus bukanlah anak keturunan Tuhan (seperti yang pernah disebutkan dalam Yohanes 3:16) karena kata-kata itu telah dihapus dari RSV (Revised Standard Version - Injil versi standard yang sudah di revisi), serta banyak lagi Injil versi baru lainnya. Di samping itu, Tuhan secara tegas telah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa Dia tidaklah memiliki anak. Tuhan juga menyatakan bahwa Dia-lah yang telah menciptakan Adam (a.s.) dan Yesus (Isa a.s.).
“Sesungguhnya contoh (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah", maka jadilah Dia.” (Al-Imran:59)
Setelah perubahan Injil tadi, para penguasa dan pendeta memalsukan dan merubah isi Injil lebih jauh lagi, hingga jauh bertentangan dengan apa yang telah dikatakan maupun dilakukan oleh Yesus. Salah satunya adalah konsep Trinitas di mana Yesus adalah salah satu dari tiga perwujudan Tuhan Trinitas (Tuhan Bapa, Tuhan Anak, dan Roh Kudus). Di dalam Injil, ayat itu menjadi dasar yang kuat bagi doktrin Trinitas, meskipun doktrin tersebut tidak pernah dikemukakan oleh Yesus, murid-muridnya, maupun orang-orang yang mempelajari agama Kristen. Pada kenyataannya, doktrin Trinitas diberlakukan setelah melalui perdebatan dan pertentangan panjang antara umat Kristiani pada tahun 325 M di Konsili Nicea. Yang menarik, ayat mengenai hal itu telah dihapus dari Injil-Injil jaman modern.

Sebagai tambahan, Al-Qur’an telah mengingatkan kaum Yahudi Nasrani agar tidak mengingkari wahyu Tuhan serta tidak meyakini Trinitas.
Pertentangan lainnya yang kutemukan adalah tentang ‘Dosa Waris’ dan keselamatan melalui penyaliban Yesus. Ternyata, Yesus tidak pernah mengajarkan doktrin Dosa Waris. Doktrin Dosa Waris baru muncul setelah masa Yesus. Lebih jauh lagi, Yesus menyebutkan bahwa keselamatan akan diperoleh melalui ketaqwaan terhadap Tuhan, sedangkan setelah masa Yesus, keselamatan umat manusia dianggap dapat ditebus melalui penyaliban Yesus.

Dalam ajaran Kristiani, doktrin Dosa Waris merupakan suatu pembenaran atas doktrin penebusan dosa manusia melalui penyaliban Yesus. Sekalipun demikian, aku menemukan bahwa doktrin ini sangat bertentangan dengan kitab Perjanjian Lama. Tampaknya, konsep ini telah dirancang sebagai cara penganut Kristiani untuk mengelak dari pertanggung-jawaban atas dosa-dosa mereka di hadapan Tuhan pada hari pembalasan. Aku akhirnya sadar bahwa, menurut Yesus, manusia akan diselamatkan oleh ketaatan dan ketakwaannya sendiri kepada Tuhan. Hal ini sesuai pula dengan Al-Qur’an, bahwa setiap jiwa akan mendapat balasan menurut amal perbuatannya. Akan tetapi, ketentuan ini telah ditukar dengan sebuah doktrin, bahwa dosa umat manusia dapat ditebus dengan penyaliban Yesus.

Teori penebusan dosa melalui penyaliban Yesus harus didukung bukti bahwa Yesus menawarkan dirinya sendiri dengan suka rela untuk disalib demi menyelamatkan dan menebus dosa umat manusia. Jika benar demikian, mengapa Yesus harus meminta tolong kepada Tuhan sebelum para tentara datang untuk menangkapnya?
“...Bapa, selamatkanlah aku daripada saat ini.” (12:27)
Demikian pula, mengapa Injil menyebutkan bahwa Yesus berteriak dengan lantang memohon pertolongan Tuhan saat berada di atas salib?
“...Tuhanku, Tuhanku, mengapa Kau tinggalkan aku?” (Matius, 27:46)
Selain itu, bagaimana mungkin Yesus disalib untuk menebus dosa seluruh umat manusia, jika dia diutus hanya untuk Bani Israel saja? Ini sungguh merupakan penyimpangan. Ayat-ayat Injil di atas sangat meyakinkan kita bahwa Yesus telah disalib untuk menebus dosa anak manusia. Sedangkan, menurut Al-Qur’an, orang yang berada di atas salib bukanlah Yesus, melainkan orang lain yang diserupakan dengannya. Bila hal ini benar, maka akan didapatkan penjelasan logis tentang pertemuan Yesus dengan murid-muridnya setelah masa penyaliban. Seandainya dia benar-benar meninggal di atas salib, maka dia pasti akan datang kepada murid-muridnya dalam wujud spiritual. Sebagaimana yang disebutkan dalam Injil Lukas 24:36-43, Yesus menemui mereka secara fisik setelah peristiwa penyaliban. Sekali lagi, aku menemukan bahwa ternyata Paulus-lah yang mengajarkan dogma kebangkitan Yesus dari kematian. Paulus juga mengakui bahwa kebangkitan Yesus hanyalah ajarannya sendiri.

Aku menemukan banyak sumber yang menyebutkan bahwa pada masa itu, Paulus dan yang lain-lainnya merasa putus asa dengan penolakan orang Yahudi terhadap ajaran Yesus, sehingga mereka terpaksa menyebarkan ajaran itu kepada orang-orang non-Yahudi. Mereka merambah Eropa selatan, di mana polytheisme dan pemujaan berhala sedang meraja-lela. Secara bertahap, ajaran Yesus mulai diubah agar sesuai dengan selera dan tradisi bangsa Romawi dan Yunani pada masa itu. Injil sendiri telah mengingatkan agar tidak seorangpun menambahkan maupun mengurangi apa-apa dalam ajarannya, namun ternyata hal itu telah benar-benar terjadi. Tuhan juga telah memberikan peringatan serupa di dalam Al-Qur’an.
“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” (Al-Baqarah:79)
Continued to Part 3

Donald W. Flood – Percakapan Menuju Islam (Part 1 of 5)

Suatu ketika di tahun 2005, Bpk. Choirul Anam, seorang sahabat yang bekerja di PT. Kertas Leces, memberikan sebuah cetakan komputer berbahasa Inggris berisi kisah-kisah Muallaf dari negara-negara Barat, yang didapatnya dari Internet. Merasakan adanya hikmah dari membaca naskah itu, saya memiliki keinginan yang kuat untuk menterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia, agar bisa berbagi cerita dengan teman-teman semua. Meskipun selesai pada pertengahan tahun 2006, hasil terjemahan itu baru sekarang saya unggah ke internet. Selamat membaca dan semoga bermanfaat.

Menggabungkan Kepingan Awal “Teka-teki Tujuan Hidup”
Dulu, aku berpikir bahwa latar belakangku akan dapat membawa kehidupan yang sempurna, terlebih semenjak aku merasakan kepuasan mental maupun fisik. Sebagai seorang pemuda, kehidupanku tidaklah jauh berbeda dengan rata-rata orang Amerika yang bergaya hidup agak hedonistik. Aku menyukai musik, gadis pesta, olah raga, pelesir, makanan etnis, dan bahasa asing. Namun akhirnya aku mencapai suatu titik, di mana aku merasakan “kehampaan spiritual”. Aku bertanya kepada diri sendiri, “Sekarang, apa lagi maumu?”. Aku mulai berpikir, “Hidup pasti bukanlah hanya untuk ini saja”. Kesadaran inilah yang akhirnya menjadi pemicu yang membawaku menuju sebuah pencarian kebenaran melalui berbagai macam jalan.

Pada awalnya, aku mengira bahwa penyebab ketidak-puasan spiritual yang kurasakan adalah gaya hidupku di Amerika, yang acapkali terbelenggu oleh kesenangan sesaat dan tingkah laku yang impulsif (menuruti kehendak nafsu). Sebagai hasilnya, aku berspekulasi bahwa jawaban dari semua ini akan kudapatkan dengan menemukan daerah lain yang lebih baik. Karena itulah, aku mulai mencari suatu tempat yang sempurna. Setelah menjelajahi banyak tujuan, aku menyadari bahwa semua daerah itu bukanlah tempat yang benar-benar aku rindukan, tidak lebih dari suatu budaya tertentu belaka dengan masing-masing pendekatannya yang paling sesuai dengan kehidupan di daerah itu. Ketika aku menemukan suatu budaya yang kuanggap paling menarik, saat itulah aku baru menyadari bahwa budaya tersebut masih memiliki cacat dan kelemahan. Semenjak itu, aku menduga bahwa kita harus mempelajari berbagai cara hidup manusia lalu memilih mana yang terbaik dari praktek-praktek itu. Inilah yang mungkin merupakan jalan kebenaran.

Setelah gagal untuk benar-benar menerapkan kehidupan seorang manusia global, aku mengambil pilihan untuk beralih ke buku-buku bacaan tentang metafisika, karena hal-hal yang esoterik (hanya bisa dipahami oleh orang-orang tertentu saja) dalam kehidupan ini selalu membangkitkan minatku. Aku mempelajari bahwa segala hal ternyata berjalan menurut hukum universal yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan seseorang. Setelah melahap banyak buku metafisika, aku menyimpulkan bahwa hal yang lebih penting daripada hukum-hukum itu adalah Sang Pencipta hukum itu sendiri, yaitu Tuhan. Aku juga menyadari bahwa metafisika bisa jadi merupakan suatu jalan yang sulit dan terlalu berbahaya untuk diikuti, sehingga timbullah keputusan untuk tidak mempelajarinya lebih jauh lagi.

Atas nasehat seorang teman dekat, aku dan beberapa orang lainnya kemudian mengadakan perjalanan camping selama tiga bulan ke seluruh Amerika dan Kanada Bagian Barat, dengan maksud untuk menemukan tujuan hidup. Saat itulah, kami menyaksikan keajaiban-keajaiban alam dan merasa yakin bahwa dunia ini tidak mungkin tercipta secara kebetulan begitu saja. Dunia ini benar-benar merupakan suatu negeri ajaib yang penuh dengan tanda-tanda yang membuktikan adanya Sang Pencipta. Dan begitulah, perjalanan tersebut semakin memperkuat keyakinanku terhadap Tuhan.

Setibanya di rumah, aku merasa sangat tertekan oleh kehidupan kota besar yang sangat sibuk, sehingga aku mulai beralih ke meditasi demi mencari ketenangan. Melalui teknik-teknik meditasi, aku dapat menemukan kedamaian batin. Sekalipun begitu, ketenangan dan kedamaian itu hanya bersifat sementara. Saat aku kembali berdiri, perasaan damai tersebut hilang lagi. Selain itu, melakukan meditasi secara konsisten ternyata merupakan suatu tugas yang amat berat. Karena itulah, ketertarikanku berangsur-angsur sirna.

Tidak lama kemudian, aku mulai menduga bahwa kebenaran yang sedang kucari mungkin terletak pada pengembangan diri. Karenanya, aku mulai menjadi seorang pembaca yang haus akan bahan-bahan bacaan tentang motivasi, dan mulai menghadiri seminar-seminar yang terkait dengan itu. Di samping itu, aku juga berusaha untuk menerapkan slogan Angkatan Darat Amerika Serikat di iklan-iklan TV, ‘Be all you can be”’ (Kerahkanlah segala kemampuan dirimu), dengan cara mengikuti latihan-latihan seperti berjalan di atas api, terjun payung, dan bela diri. Disebabkan oleh buku-buku yang kubaca dan kegiatan-kegiatan yang menantang itulah, rasa percaya-diriku semakin menguat, namun pada kenyataannya, aku masih belum juga menemukan kebenaran yang kurindukan.

Segera setelah itu, aku melanjutkan pencarian dengan membaca buku-buku tentang filsafat. Aku memang menemukan banyak konsep dan praktek yang menarik; namun tidak ada satupun filsafat yang dapat benar-benar kusetujui secara keseluruhan. Sehingga, aku lebih memilih untuk menggabungkan apa-apa yang kuanggap sebagai kebijakan terbaik di antara semua doktrin-doktrin itu. Hal itu kemudian menjadi semacam ‘agama campuran” yang memberi penekanan terhadap sikap moral yang baik. Akhirnya, aku sampai pada suatu kesimpulan bahwa moral yang baik memang perlu, namun masih belum cukup untuk dapat memecahkan “teka-teki tujuan hidup”, yang membutuhkan suatu pendekatan hidup yang cenderung bersifat spiritual.

Tidak lama kemudian, aku mendapat pekerjaan di sebuah negara Muslim, di mana aku mempunyai cukup banyak waktu luang untuk membaca dan merenungkan hidup. Pencarianku terhadap kebenaran masih terus berlanjut, hingga akhirnya aku menemukan suatu anjuran di sebuah buku tentang pentingnya pertobatan yang sungguh-sungguh kepada Tuhan. Anjuran tersebut kulakukan dan aku benar-benar merasakan penyesalan yang mendalam atas berbagai kesalahan yang pernah kuperbuat terhadap orang lain dalam hidupku, begitu mendalam hingga air mata menetes di pipiku.

Beberapa hari kemudian, aku berbincang-bincang dengan beberapa orang teman Muslim. Aku mengatakan kepada mereka bahwa di Amerika dulu, aku biasa mengenyam kebebasan yang lebih luas daripada yang kutemui di negara mereka. Seorang dari mereka mengatakan, “Memang, tapi sebenarnya itu bergantung pada apa yang kamu maksud dengan kata ‘kebebasan’. Di duniamu, sebaik apapun orang-tua mengajarkan moralitas kepada anak-anaknya di rumah, saat berada di luar rumah, mereka umumnya akan menemukan suatu masyarakat yang jauh dengan moralitas yang diajarkan di rumah. Sebaliknya, pada kebanyakan masyarakat Muslim, moral yang diajarkan kepada anak-anak di rumah amat sepadan dengan apa yang mereka temukan di luar rumah. Jadi, siapakah yang benar-benar memiliki kebebasan dalam hal ini?” Dari perbandingan itulah, aku mengambil kesimpulan bahwa aturan dan larangan Islam yang membatasi perilaku manusia bukanlah bertujuan untuk membelenggu kebebasan manusia; melainkan, untuk menegaskan batas-batas kebebasan yang bermartabat bagi umat manusia.

Kesempatan berikutnya untuk mempelajari Islam muncul ketika aku diundang untuk makan malam bersama dengan sekelompok penganut Islam. Setelah memberitahu mereka bahwa aku pernah tinggal di Las Vegas, Nevada sebelum pindah ke Timur Tengah, seorang Muslim yang berasal dari Amerika berkata, “Kamu harus memastikan bahwa kelak kamu meninggal sebagai seorang Muslim yang baik.” Segera aku memintanya agar menjelaskan maksudnya. Dia meneruskan, “Jika kamu meninggal sebagai non-Muslim, kamu seolah-olah sedang bermain roulette dan mempertaruhkan semua kepinganmu (seluruh hidupmu, termasuk amal-amal sekaligus keyakinanmu sendiri terhadap Tuhan) hanya pada satu nomer saja, semata-mata berharap bahwa barangkali dengan rahmat dan ampunan Tuhan, kamu akan memasuki surga di hari pembalasan. Sebagai perbandingan, jika kamu meninggal sebagai seorang Muslim yang bertakwa, seolah-olah kamu menyebarkan semua kepinganmu di seluruh papan roulette, sehingga dengan cara ini seluruh nomer akan dapat tercakup. Di angka berapapun bola roulette jatuh, kamu akan tetap aman. Dengan kata lain, hidup dan mati sebagai seorang Muslim yang bertakwa adalah jaminan terbaik untuk tidak masuk neraka, dan sekaligus, merupakan modal terbaik untuk dapat masuk surga.” Sebagai orang yang pernah tinggal di Las Vegas, aku langsung dapat memahami hubungan antara contoh yang pedas tersebut dengan permainan roulette.

Pada waktu itu, aku baru memahami bahwa kebenaran yang sedang kucari tak akan pernah dapat kutemukan kecuali aku mendalami dan memusatkan diri pada agama-agama yang telah diwahyukan oleh Tuhan kepada para nabi dan rasulNya. Karena itulah, aku memutuskan untuk melanjutkan pencarian kebenaran itu dengan mempelajari agama Kristen dan Islam.

Continued to Part 2

Wednesday, May 11, 2011

NKRI Sesat? Pancasila Thaghut?

"Pancasila adalah Thaghut. Menyatakan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum adalah musyrik, benar-benar musyrik yang nyata!!! Jika seorang Muslim Indonesia mengakuinya, janganlah sebut dirinya lagi sebagai orang Islam lagi, karena jika ia menyatakannya dengan penuh kesadaran dan pengetahuan, maka jelas akan mengeluarkannya dari aqidah Islam."

Begitulah bunyi paragraf terakhir yang saya kutip dari sebuah website anti-Pancasila, anti-NKRI. Astaghfirullah .... Sudah seperti inikah anggapan dan penilaian sebagian umat Islam di negeri ini? Apakah mereka tidak mempelajari sejarah bangsa sehingga mereka tidak tahu bahwa sebagian besar pencetus kelahiran Republik Indonesia serta dasar negara adalah para ulama? Atau, apakah mereka juga beranggapan bahwa para ulama Bapak pendiri negara adalah golongan kaum musyrikin juga?

Ada baiknya, mari kita pahami definisi dari 'dasar negara' serta 'thaghut'. Dasar Negara adalah fundamen yang kokoh dan kuat serta bersumber dari pandangan hidup atau falsafah (cerminan dari peradaban, kebudayaan, keluhuran budi dan kepribadian yang tumbuh dalam sejarah perkembangan Indonesia) yang diterima oleh seluruh lapisan masyarakat. Sedangkan 'Thaghut' adalah istilah dalam agama Islam yang merujuk kepada setiap yang disembah selain Allah yang rela dengan peribadatan yang dilakukan oleh penyembah atau pengikutnya, atau rela dengan ketaatan orang yang menaatinya dalam melawan perintah Allah.

Sudah jelas bahwa Pancasila sudah merupakan dasar yang kokoh dan kuat, yang bersumber dari pandangan hidup atau falsafah yang merupakan cerminan dari peradaban, kebudayaan, keluhuran budi dan kepribadian yang tumbuh dalam sejarah perkembangan Indonesia. Pancasila juga bisa diterima oleh seluruh lapisan masyarakat, dari Sabang sampai Merauke. Sekarang, pertanyaannya adalah "Apakah Pancasila adalah sesuatu yang kita sembah-sembah dalam beribadah?" atau "Apakah Pancasila mengajak kita untuk melawan perintah Allah?"

Dari 45 Butir-butir Pancasila, tidak ada satupun yang bertentangan dengan ajaran Islam serta teladan akhlak Rasulullah SAW. Bahkan keindahan ahlak Rasulullah Muhammad SAW seolah tercermin di sana. Jika masih terdapat penyimpangan dalam berbagai sendi kehidupan bernegara, maka bukan dasar negara yang harus diganti, melainkan implementasi nilai-nilai Pancasila itulah yang harus diperhatikan. Pelanggaran atau penyimpangan dalam pemerintahan terjadi jika oknum pemerintah tidak memiliki sifat amanah serta melupakan nilai-nilai agama serta Pancasila dalam melaksanakan tugasnya. Lantas, kenapa ada yang mengatakan bahwa Pancasila adalah thaghut? Heran .... Sama herannya ketika misal, ada seorang Muslim bergelar Haji melakukan kemaksiatan, lantas orang sekitar ramai-ramai menyalahkan agama Islam atau ibadah haji. Lucu bukan?

Tentang gerakan anti-Pancasila yang mengatas-namakan Islam, Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Asad Said Ali, mengatakan, bentuk dakwah yang harus diwaspadai dan dipantau adalah yang anti-Pancasila. ''Kalau dakwah yang mengajarkan terorisme, apakah itu tidak anti-Pancasila?" ujar Asad di sela bedah buku 'Negara Pancasila, Jalan Kemaslahatan Berbangsa'.

Banyak para ulama di seluruh Indonesia yang mengajak seluruh umat Islam menolak ajaran atau aliran yang hendak mengganti dasar negara Pancasila dan UUD 1945 serta meminta aparat penegak hukum mengambil tindakan tegas terhdap kelompok atau aliran yang mengajarkan tindakan kekerasan yang mengatasnamakan jihad dalam membela agama Islam.

Para penentang NKRI dan Pancasila secara umum tidak menyetujui Pancasila sebagai dasar negara karena mereka menganggapnya sebagai kesyirikan. Mereka berpendapat bahwa NKRI seharusnya berbentuk negara "khilafah". Tentang khilafah, berikut saya kutip point-point penting fatwa Mufti Mesir Syeikh Ali Jum'ah:
  1. Sejarah Khilafah Islamiyah membuktikan bahwa Khilafah bukanlah bentuk paten, dalam artian terbuka ruang ijtihad di sana. Misalnya Sayyidina Umarlah yang pertama kali membuat sistem Dawawin (semacam lembaga yudikatif negara); Khilafah Umawiyahlah yang pertama kali mencetak mata uang resmi negara, pengaturan sistem pertahanan dalam negeri , memisahkan sistem qadla' dan sistem politik dari pertahanan.
  2. Islam menjamin hak-hak politik misalnya : pemilihan pemimpin negara dengan rela, yakni yang disebut sebagai bai'at dalam turats klasik; partisipasi semua warga negara yakni yang disebut sebagai syura, pengangkatan jabatan politik di pemerintahan dan organisasi negara; amar ma'ruf nahi munkar.
  3. Islam memandang arti dari sebuah sistem bukan simbolnya.
  4. Demokrasi adalah inti dari Islam (min shamim al-islam). Islam mengaspirasi suara rakyat untuk memilih pemimpin negara yang disukai
  5. Rasulullah sempat mengamalkan sistem pertahanan bangsa Persia dalam perang Khandaq, penggunaan cap resmi dalam surat menyurat seperti kebiasaan raja-raja, Sayyidina Umar meniru sistem pajak negara.
  6. Tak ada pertentangan antara hukum Allah dan hukum manusia karena ijtihad manusia dalam hal yang tak dinash sama sekali tak dilarang.
  7. Penggunaan kata-kata Demokrasi tidak dilarang dalam Islam karena Islam memandang substansi bukan simbol.
  8. Demokrasi harus terus diperbaiki sistemnya sesuai dengan adat istiadat masyarakat setempat dan diselaraskan dengan Islam.
  9. Demokrasi yang tak melanggar nilai-nilai paten agama adalah inti dari Islam.
  10. Haram mengatakan bahwa demokrasi adalah sistem kafir dan thaghut karena demokrasi sesuai dengan Islam
Dengan demikian Demokrasi Pancasila, Pancasila sebagai Dasar Negara, serta Negara Kesatuan Republik Indonesia telah selaras dengan syariat Islam. Pancasila bukanlah berhala yang kita sembah, bukanlah Thaghut yang mengajarkan kesesatan kepada kita. Pancasila adalah dasar dan sumber hukum yang mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. NKRI bukanlah negara sesat, bukan negara Thaghut, karena nilai-nilai agama, terutama Islam, masih menjadi pegangan dalam berbagai sendi kehidupan masyarakat. Kebebasan beribadah pun dilindungi oleh pemerintah. So, ... Pancasila TIDAK PERLU diganti. NKRI Harga Mati!

Semoga tulisan saya yang semata-mata bertujuan untuk mempertahankan negara yang saya cintai ini merupakan suatu bentuk ibadah di sisi Allah. Dan semoga Allah menerima dan meridhai semua amal ibadah kita, sehingga kita tidak tergolong hamba-hambaNya yang kafir. Amin.
Setiap orang yang mengkafirkan seorang Muslimin, maka dia yang kafir. Dasarnya adalah sabda Nabi SAW, yang artinya : “Barangsiapa berkata kepada saudaranya, hai kafir, maka sesungguhnya salah seorang dari keduanya lebih patut sebagai orang kafir”.

Updated November 11, 2011.

Tuesday, May 10, 2011

'Fastest' - Film Dokumenter MotoGP Terbaru

Para fans MotoGP boleh bersenang hati karena sebuah film dokumenter MotoGP terbaru akan segera dirilis kira-kira pada musim panas mendatang ini. Pembuatan film dokumenter motoGP berjudul 'Fastest' ini dikomandoi oleh Mark Neale sebagai sutradara. Mark Neale sebelumnya telah sukses mensutradarai film-film dokumenter MotoGP terdahulu berjudul 'Faster' dan 'The Doctor, the Tornado and the Kentucky Kid'.

Dengan setting balapan MotoGP di seluruh penjuru dunia pada tahun 2010 dan 2011 yang dipadu dengan narasi oleh Ewan McGregor, ‘Fastest’ mengabadikan sederet realita yang menegangkan dan mendebarkan dalam kejuaraan dunia MotoGP. 'Fastest' bnar-benar mencoba mendokumentasikan momen-momen penting dan bersejarah dalam olahraga tersebut. Misal tentang Valentino Rossi yang sedang memburu gelar juara dunia yang kesepuluh namun kemudian harus menghadapi salah satu tantangan terberat dalam karirnya, yaitu sekelompok pembalap-pembalap muda yang luar biasa cepat, ditambah cedera patah tulang kaki saat membalap di kandang sendiri, tapi mampu bangkit lagi dengan menakjubkan dalam waktu 40 hari.

Dengan mengemban tugas yang begitu berat, ditambah dengan tantangan dari para pesaingnya termasuk Jorge Lorenzo yang merebut gelar juara dunia MotoGP 2010, Rossi kini harus menghadapi salah satu tahun terberat dan penuh dengan ujian dalam karirnya yang begitu gemilang di kancah MotoGP. Semua orang kini bertanya-tanya: Siapakah pembalap tercepat sekarang?

Film dokumenter 'Fastest' yang diproduksi oleh Paul Taublieb untuk Media X International akan dirilis secara resmi untuk pasar pada musim panas 2011 mendatang. Pasar film tersebut meliputi beberapa negara tertentu termasuk Inggris, Jepang, Australia dan Selandia Baru. Untuk informasi lebih lengkap, kunjungi situs rumah produksi Media X International.

“’Fastest’ adalah perasaan terhebat. ‘Fastest’ juga merupakan resiko terberat,” kata sutradara Mark Neale. “Inilah inti dari MotoGP dan film. Tingkat tertinggi dari kenikmatan serta ketakutan dalam kehidupan balap motor.”

Ingin nonton trailer 'Fastest'? Klik di sini.

Sumber: http://www.motogp.com/en/news/2011/Fastest+due+for+summer+release

Saturday, May 7, 2011

Word Formation - Prefixes

Very often when we are reading, we come across unfamiliar words. We have to stop reading for a few seconds to figure out the intended meaning of the words. Don't worry. It is often possible to guess the meanings of these words if we understand how words in English are usually formed.
An English word can be divided into three parts: a prefix, a stem, and a suffix. However, let's concentrate on prefixes in this post. Pre – means ‘before’. A prefix, therefore, is what comes before the stem. Let's take as an example, the prefix de – , which means ‘reduce’ or ‘reverse’, in a word like demagnetize (meaning ‘to deprive of magnetism’). Prefixes generally change the meaning of the word. For example, un – changes a word to the negative. Unmagnetizable means ‘not capable of being magnetized’.


Let us now consider some prefixes, their usual meanings, and how they change the meanings of English words.

1.  NEGATIVE PREFIXES:
    Negative prefixes can mean:
    • Not: un-, in-, im-, il-, ir-. E.g.: Unmagnetized, Incomplete, Impossible, Illegal, Irregular, Irrelevant
    • Not connected with: non-. E.g.: Non-programmable.
    • Bad, wrong: mis-, mal-. E.g.: Misdirect, Miscalculate, malfunction.
    • Opposite feeling/action: dis-. E.g.: Dislike, Disagree, Dismantle, Disconnect.
    • Against: anti-. E.g.: Antiglare, Antitank.
    • Reduce, reverse: de-. E.g.: Demoralize, Demagnetize, Decode.
    • Too little: under-. E.g.: Underestimate. 

    2.  POSITIVE PREFIXES.
      Positive prefixes can mean:
      • Do again: re-. E.g.: Reorganize, Recycle.
      • Too much: over-. E.g.: Overload.
      •  
      3.  PREFIXES OF SIZE.
        Prefixes of size can mean:
        • Half, partly: semi-. E.g.: Semiconductor.
        • Equal: equi-. E.g.: Equidistant.
        • Small: mini-. E.g.: Minicomputer.
        • Very small: micro-. E.g.: Microorganism.
        • Large, great: macro-, mega-. E.g.: Macroeconomics, Megabyte.
        •  
        4.  PREFIXES OF LOCATION.
          Prefixes of location can mean:
          • Between, among: inter-. E.g.: Interface, Interactive.
          • Within: intra-. E.g.: Intramural.
          • Over: super-. E.g.: Supersonic.
          • Across: trans-. E.g.: Transmit, Transfer.
          • Out: ex-. E.g.: Exclude, Extrinsic.
          • Beyond: extra-. E.g.: Extraordinary.
          • Under: sub-. E.g.: Subordinate.
          • Below: infra-. E.g.: Infrared.
          • Around: peri-, circum-. E.g.: Peripheral, Circumstance.
          • Beside: para-. E.g.: Parameter.
          •  
          5.  PREFIXES OF TIME AND ORDER.
            Prefixes of time and order can mean:
            • Before: ante-, pre-, fore-. E.g.: Antecedent, Prefix, Forehead.
            • First: prime-. E.g.: Primary, Primitive.
            • After: post-. E.g.: Postgraduate.
            • Backward: retro-. E.g.: Retroactive.

            6.  PREFIXES OF NUMBERS.
              Prefixes of numbers can mean:
              • Half, part: semi-. E.g.: Semicircle.
              • One: mono-. E.g.: Monochromatic.
              • Two: bi-. E.g.: Binary.
              • Three: tri-. E.g.: Triangle..
              • Four: quad-. E.g.: Quadruple.
              • Five: penta-. E.g.: Pentagon.
              • Six: hex-. E.g.: Hexagon.
              • Seven: sept(em). E.g.: September
              • Eight: oct-. E.g.: Octal.
              • Ten: dec-. E.g.: Decimal.
              • Many: multi-, poly-. E.g.: Multitasking, Polyphonic.
              •  
              7.  OTHER PREFIXES.
                Other prefixes can mean:
                • Before, in advance, forward: pro-. E.g.: Program, Progress.
                • Self: auto-. E.g.: Automatic.
                • Life: bio-. E.g.: Biography.
                • Extremely: ultra-. E.g.: Ultraviolet.
                • Cause to be: en-, em-. E.g.: Encourage, Empower.
                • Together, with: co-, con-, intro-. E.g.: Coordinate, Conjunction, Introduce.
                • False: pseudo-. E.g.: Pseudonym.
                • Opposing: counter-, contra-. E.g.: Counterattack, Contradict.
                •  

                Thursday, May 5, 2011

                Utamakan Pandangan Allah

                Pada suatu pagi kira-kira di tahun 2007, seperti biasa mentari bersinar cerah menyapa rerimbunan daun pepohonan yang terdiam lesu dalam dinginnya pagi. Kicau burung terdengar ramai, terbawa oleh semilir angin pagi yang lembut, membuat suasana pagi terasa lebih sejuk dan alami. Begitu indah pagi ini, pikirku seraya melangkahkan kaki meninggalkan mesjid tempat aku biasa menunaikan shalat dhuha pada jam istirahat pertama.

                Sudah menjadi kebiasaanku waktu itu, aku segera menuju kantin di halaman depan mesjid untuk sekedar menghabiskan 1 batang rokok ditemani segelas kopi panas, sambil menghabiskan waktu istirahat. Tak ingin kehilangan banyak waktu sebelum waktu istirahat habis, aku melangkah dengan sedikit bergegas di antara rombongan murid yang berlalu-lalang.

                Di kantin, sambil berbincang-bincang tentang berbagai hal dengan seorang sahabat, aku memperhatikan berbagai macam orang yang berada di halaman mesjid, mulai dari murid-murid PAUD, TK, SD, SMP, SMA, hingga bapak dan ibu-ibu yang ingin menjemput atau menemui anaknya yang sedang menuntut ilmu di kompleks sekolah tempat aku mengajar. Kebanyakan dari siswa-siswi sedang membeli jajanan pengisi perut setelah menunaikan shalat dhuha.

                Di depan kantin, aku melihat seorang wanita muda sedang berdiri sambil sesekali melihat ke sekeliling. Dia tampak gelisah, mungkin sedang menunggu seseorang. Sesekali dia tampak sibuk dengan telpon genggamnya. Rambutnya yang sebagian dicat agak pirang tampak berkilauan di bawah sinar matahari pagi. Pakaian yang cukup modis ketat membalut tubuhnya, menampakkan hampir seluruh lekuk tubuhnya yang langsing dan tampak terawat kepada setiap mata yang memandang. Tak lama kemudian, dia melangkah pergi entah ke mana.

                Beberapa saat kemudian, seorang wanita berjilbab tampak berjalan di antara kerumunan orang. Sebelah tangannya mendekap sejumlah buku ke dadanya. Dari penampilannya, aku menduga bahwa dia kemungkinan besar adalah seorang pengajar di TPQ masjid. Dan yang tidak bisa aku lupakan sampai sekarang adalah, wanita itu memiliki kelainan fisik. Astaghfirullahaladzim .... Kakinya amat pendek, terlalu pendek bagi ukuran wanita seusianya, sehingga tinggi tubuhnya tidak lebih dari pinggang orang dewasa. Namun, kedamaian tampak jelas terpancar dari wajahnya. Kedamaian yang insya Allah bersumber dari keikhlasannya menerima takdir Allah serta dari keyakinannya untuk bisa membawa manfaat bagi orang lain. Dan saya kagum kepadanya.

                Saudara-saudaraku, mari kita renungkan kedua perbandingan di atas. Saya tidak mau ber-suudzon terhadap wanita yang pertama. Namun jelas, apapun yang dia lakukan, kesempurnaan kondisi fisik tetap saja tidak mampu melepaskan dirinya dari kegelisahan dan kerisauan jiwa. Entah apa yang dicarinya dan apa tujuannya dalam hidup. Isyarat yang dengan jelas dapat saya tangkap adalah bahwa kecantikan belum menjadi jaminan atas kebahagiaan.

                Marilah kita mengambil hikmah dari gambaran wanita yang kedua. Dia tampak ikhlas dan tabah menerima kekurangan fisiknya. Dia tidak malu dan minder karena kakinya yang pendek yang membuatnya tampak lucu jika berjalan. Dia tidak peduli dengan cibiran dan perkataan orang. Seolah dia meyakini bahwa pandangan Allah-lah yang paling utama. Sehingga dia tidak mengurung diri karena cacat fisiknya. Sebaliknya, dia bersemangat untuk bisa berbuat dan berbuat agar bisa bermanfaat bagi orang lain.

                Subhanallah, baru saja Allah memberikan kepada kita satu hikmah lagi untuk kita pelajari. Bisa jadi, Allah memberikan kita berbagai macam keterbatasan di dunia, seperti cacat dan kekurangan fisik atau materi, karena Allah terlalu mencintai kita. Allah sayang kepada kita dan Dia ingin menghindarkan kita dari banyak perbuatan dosa di dunia, untuk digantinya dengan kenikmatan surgawi yang kekal dan tak terbatas nanti di akhirat.

                Jika kita renungkan, betapa banyak perbuatan dosa berawal dari pandangan mata terhadap indahnya dunia dan makhlukNya. Betapa banyak pula langkah kaki yang tergelincir oleh silaunya gemerlap dunia. Banyak pria maupun wanita harus bermandi dosa hanya karena mereka dikaruniai kesempurnaan fisik yang membuat lawan jenisnya jatuh dalam nafsu birahi yang jauh dari ridha Allah. Banyak juga orang-orang yang tertipu oleh kemilau harta dunia hingga melupakan tugasnya untuk beribadah kepada Allah, Sang Pemilik Kehidupan. Sebaliknya, betapa sedikitnya dosa-dosa orang-orang buta, para tuna netra yang harus hidup di dunia dengan menggunakan mata batin, bukan mata kepala. Mereka yang kita anggap orang-orang malang di dunia, bisa jadi lebih beruntung di hadapan Allah daripada kita yang sangat sulit menjaga pandangan mata kita.

                Karena itu saudara-saudaraku, marilah kita belajar melihat segala sesuatu dari mata Allah. Utamakanlah pandangan Allah, bukan pandangan manusia. Sehingga, dalam menilai sesuatu, kita juga mempertimbangkan bagaimana Allah menilai hal tersebut. Allah telah mengajarkan kepada kita:
                Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas. (Q.S. 2:212)
                Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Q.S. 3:14)
                Janganlah sekali-kali kamu menujukan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. (Q.S. 15:88)
                Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (Q.S. 24:30-31)
                Manusia dengan sifat lupa dan tidak-puasnya memang merupakan tempat berbagai macam perbuatan khilaf. Mata kita terlalu terbatas kemampuannya untuk menilai, dan seringkali masih terpengaruh oleh orang-orang atau keadaan di sekitar kita. Otak kita pun masih seringkali tercemari oleh berbagai macam kepentingan duniawi. Padahal, yang indah di mata kita tidaklah selalu baik di mata Allah. Begitu pula sebaliknya, yang baik bagi kita di mata Allah tidak selalu indah di mata manusia. Allah bekerja dengan tangan-tanganNya yang kadang jauh dari logika manusiawi kita. Dialah Pemilik rahasia dibalik semua rahasia. Wallahua'lam bissawab.