Monday, August 30, 2010

Pedrosa Merajai MotoGP Indianapolis 2010

Minggu, 29 Agustus 2010 (waktu lokal)
Pembalap Repsol Honda, Dani Pedrosa berhasil memetik kemenangan ketiganya di musim ini dan untuk pertama kalinya di Red Bull Indianapolis Grand Prix sepanjang karirnya di kelas paling bergengsi kejuaraan balap motor MotoGP. Dia mampu mengungguli Ben Spies, peraih posisi pole (start terdepan), dan Jorge Lorenzo sang pemimpin klasemen MotoGP.

Dengan keberhasilannya menjuarai Red Bull Indianapolis Grand Prix hari Minggu kemarin, Dani Pedrosa memperkecil selisih nilai dengan pemimpin klasemen saat ini, Jorge Lorenzo, menjadi 68 point dengan tujuh putaran tersisa untuk musim 2010. Kemenangan ini merupakan kemenangan ketiga baginya dalam musim 2010, dan baru kali ini pembalap Repsol Honda itu dapat meraih tiga kemenangan di suatu musim MotoGP.

Start dari deret kedua, Pedrosa melaju kencang sejak awal dan mencetak waktu tercepat di lap kedua dan berada di posisi kedua, menguntit di belakang Ben Spies. Di akhir lap ketujuh, pembalap berkebangsaan Spanyol itu menyalip pendatang baru tersebut di jalur lurus start/finish dan sejak itu terus memimpin balapan, hingga akhirnya melintasi garis finish dengan selisih waktu 3.575 detik di depan Spies.

Bagi Spies yang membalap untuk team Monster Yamaha Tech 3, posisi runner-up merupakan hasil terbaiknya di kelas MotoGP, dan merupakan kedua kalinya dia naik ke podium dalam debutnya yang fantastis di MotoGP. Spies start dari posisi pole (terdepan) untuk pertama kali di MotoGP. Hasil lomba yang fantastis tersebut sekaligus memastikan posisinya sebagai pembalap tim pabrikan Yamaha untuk tahun 2011.

Finish di posisi ketiga adalah pemimpin klasemen sementara, Lorenzo, yang start dari posisi kedua tapi merosot ke posisi lima di awal lomba. Akan tetapi, hal itu tidak membuyarkan konsentrasinya. Dia mampu menyalip Andrea Dovizioso dan naik ke posisi ketiga tepat sebelum pertengahan lomba. Lorenzo finish di posisi ketiga dengan selisih waktu lebih dari 3 detik di belakang Spies, Lorenzo juga sekaligus mengakhiri rekornya yang fenomenal karena selalu finish di posisi dua besar di seluruh balapan di musim ini.

Valentino Rossi (Fiat Yamaha) finish di tempat keempat, setelah berhasil mengungguli pembalap Repsol Honda, Dovizioso, yang finish di tempat kelima. Nicky Hayden berada di posisi keenam meskipun dia start di deret terdepan dan merupakan start terbaiknya sepanjang karirnya dengan Ducati.

Para "Rookie" lainnya, yaitu Marco Simoncelli (San Carlo Honda Gresini) dan Álvaro Bautista (Rizla Suzuki) tampil mengesankan dengan finish di tempat ke tujuh dan ke delapan secara berurutan, juga Aleix Espargaró (Pramac Racing) serta Héctor Barberá (Páginas Amarillas Aspar) yang juga berada di posisi 10 besar. Loris Capirossi, Hiroshi Aoyama – yang baru saja pulih dari cidera – serta Randy de Puniet adalah tiga pembalap terakhir yang menyentuh garis finish dalam balap Indianapolis 2010 ini.

Para pembalap yang harus menelan kekecewaan karena gagal finish adalah Marco Melandri yang harus berhenti pada lap kedua yang sekaligus adalah balapan Grand Prix ke 200 yang diikutinya, serta Casey Stoner setelah roda depan Ducati Desmosedici GP10 tergelincir di lap kedelapan. Begitu juga Colin Edwards yang terpaksa tidak bisa meneruskan balapan karena masalah ban belakang pada lap 17 dan Mika Kallio yang tejatuh dilap kesepuluh saat melindas bump.

Dalam pengumpulan nilai, balapan ini tetap mengukuhkan Lorenzo sebagai pemimpin klasemen dengan 251 poin, diikuti oleh Pedrosa dengan 183 poin di posisi kedua. Dovizioso berada di posisi ketiga dengan 126 poin, dan Stoner dengan 119 poin di posisi keempat. The Doctor, Rossi, tetap berada di posisi kelima dan Spies naik ke posisi keempat.
Pedrosa dan Spies beraksi di tikungan


Sunday, August 29, 2010

English Idioms and Expressions With "ALL"

What is an idiom (ideeum)? An idiom is an expression, word, or phrase whose sense means something different from what the words literally imply. Idioms usually do not translate well. In some cases, when an idiom is translated into another language, either its meaning is changed or it is meaningless. On this post, we are going to learn common idioms using "ALL", including their closest meaning(s) in Bahasa Indonesia.
Happy learning.

IDIOMSMEANINGINDONESIANEXAMPLE
All-nighterWork or study all nightBekerja/belajar semalam-suntukPulling an all-nighter before exams is not a good habit.
All overVery fond (of something)Sangat menyukai sesuatuShe's all over the latest fashions.
All shook upExtremely excited, worried, or disturbed about somethingSangat senang, khawatir, atau terganggu oleh sesuatuShe's all shook up about her mother's illness.
All that and then someMore than what has been mentionedLebih dari yang sudah dikatakanHe did all that and then some to get the new job.
Go all the wayDo something completelyMengerjakan dengan sepenuhnyaThey went all the way for the championship.
Dash it all!Expression used when very upsetUngkapan yang dipakai saat merasa sangat kecewaDash it all! I didn't do well in the test.
For all I knowBased on what I know (mostly implying displeasure)Setahu saya (umumnya untuk mengisyaratkan kekecewaanFor all I know, the government will increase the fuel price this month.
Free for allCrazy, free, non-restricted activity (generally a fight)Gila, Bebas (biasanya untuk pertarunganIt was a free for all! Everyone went crazy!
Have it all togetherBe very poised, successfulSangat mapan, suksesHe has it all together. The house, the wife, the kids, the great job - everything!
Hold all the acesHave all the advantagesUnggul, memiliki keuntungan atau kendaliUnfortunately, Rita holds all the aces right now. We'll have to do what she says.
Know all the anglesBe very clever about somethingSangat pandai dalam suatu halHe knew all the angles and answered our questions satisfactorily.
Not all thereNot intelligent, not completely focused on an activityKurang cerdas, tidak benar-benar fokus pada sesuatuThe student was not all there. He couldn't answer my questions.
Of all the nerve!Expression of anger at someone's behaviorUngkapan kemarahan atas perilaku seseorangOf all the nerve! Did you see how she treated me?
Once and for allFinally (usually putting an end to something)Akhirnya (dipakai untuk mengakhiri sesuatuWe need to stop this conflict once and for all!
Pull out all the stopsMake every possible effortmelakukan segala upayaI pulled out all the stops on the test.
Can't win them all.Expression of acceptance after a loss or disappointmentUngkapan setelah mengalami kekecewaan atau kekalahanYou did your best in the match and I'm proud of you. You can't win them all.

Friday, August 27, 2010

Facebook Places - Safety or Threat? Keamanan atau Ancaman?

"WARNING! Facebook launched Facebook ''Places'' yesterday. Anyone can find out where you are and when you are logged in. It gives the actual address & map location of where you are as you use Facebook. Make sure your kids know." Begitulah status salah seorang Facebook user yang berasal dari Amerika Serikat yang muncul di Home page saya beberapa menit yang lalu, yang kira-kira terjemahannya sebagai berikut: "Hati-hati! Kemarin, Facebook meluncurkan Facebook "Places". Siapapun akan dapat mengetahui di mana dan kapan anda mengakses Facebook. (Fitur) ini akan memberikan informasi aktual tentang alamat & lokasi anda saat anda menggunakan Facebook. Pastikan anak-anak anda mengetahui hal ini."

Beberapa hari yang lalu memang sudah tersiar kabar bahwa Facebook akan meluncurkan suatu fitur "pengaman" yang disebut Facebook Places. Dengan fitur ini, orang lain akan dapat mengetahui lokasi anda secara tepat dan pasti saat anda sedang online di Facebook. Lantas mengapa terkesan begitu heboh? Alasan apa pula yang membuat Facebook meluncurkan fitur yang canggih tapi cukup "aneh" ini?

Bisa ditebak dengan mudah mengapa Facebook melakukan hal ini, yaitu untuk menekan tingkat penyalahgunaan (abuse) account Facebook untuk tujuan-tujuan yang melanggar hukum, misalkan penculikan, pelecehan (harassment), penipuan (fraud), atau bahkan terorisme . Otomatis, jika seseorang sedang menggunakan Facebook untuk salah satu tujuan yang melanggar hukum seperti yang disebut di atas, maka akan dapat dengan mudah diketahui dimana orang tersebut sedang berada. Dari sini, "diharapkan" tindakan yang melanggar hukum tersebut dapat segera diantisipasi atau mungkin juga ditindak dengan tegas.

Langkah Facebook ini bisa dimengerti mengingat tingginya tingkat penyalahgunaan (abuse) yang terjadi di Facebook, mulai dari tingkat yang paling ringan seperti memberikan informasi palsu tentang asal-usul atau tempat tinggal, hingga ke kasus yang lebih berat semacam penipuan dan cyber crime lainnya. Terlebih lagi disaat kasus "terorisme" kian meningkat seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Di samping itu, mungkin Facebook juga ingin semakin memperbesar keunggulannya dibandingkan situs-situs jejaring sosial (Social Networking) lainnya dengan menambah ketersediaan informasi tentang seseorang dengan melacak keberadaannya saat online.

Namun mengapa status Facebook user yang berasal dari Amerika Serikat tersebut jelas mengesankan bahwa dia sedang panik? Apakah dia seorang pelaku kejahatan? Mengapa pula dia menyebutkan "Make sure your kids know" yang berarti "pastikan anak-anak anda mengetahui hal ini"? Apa yang akan terjadi jika anak-anak kita tidak mengetahuinya?

Saat ini, topik Facebook Places ini memang sedang menjadi polemik tersendiri di kalangan para Facebookers. Di satu sisi, memang perlu dilakukan langkah-langkah pengamanan (dalam batas-batas tertentu) untuk menekan jumlah penyalahgunaan (abuse) yang kerap terjadi. Namun di sisi lain, langkah Facebook ini bisa dianggap pelanggaran terhadap privasi seseorang. Bahkan, yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah keamanan para Facebookers justru bisa terancam dengan fitur ini. Betapa tidak? Lokasi Facebook users yang bisa diketahui oleh siapapun bisa saja semakin memudahkan tindak kejahatan seperti penipuan, pencurian, dan penculikan. Pelaku kejahatan atau orang yang sedang merencanakan kejahatan akan dapat mengetahui di mana kita atau anak-anak kita sedang berada saat online di Facebook. Bahkan mereka yang tidak pernah berniat apa-apa bisa saja timbul niat jahatnya saat mengetahui bahwa seseorang sedang tidak berada di rumahnya. Hal ini menjadi alasan yang jelas mengapa banyak pihak terutama para orang-tua menjadi panik dan khawatir, terlebih saat kasus penculikan anak sedang marak seperti akhir-akhir ini.

Ibarat pedang bermata dua, fitur ini tidak saja dapat mencegah, namun juga bisa membuka atau memudahkan peluang terjadinya tindak kejahatan. Untungnya, fitur Facebook Places ini tidak mengikat dan hanya bersifat opsi yang bisa diaktifkan atau dimatikan sesuai dengan keinginan kita. Secara otomatis, fitur ini langsung aktif pada account semua Facebook users. Jika anda tidak menginginkannya, anda bisa menon-aktifkan fitur tersebut dengan langkah-langkah sebagai berikut :
  1. Click "Account" di sebelah kanan atas halaman Facebook anda. Kemudian akan muncul menu vertikal (berderet ke bawah)
  2. Click "Account Settings". Anda akan masuk di halaman pengaturan (settings) dimana anda akan mendapatkan banyak tab (Settings, Networks, Notifications, Mobile ... dst).
  3. Click tab "Notifications".
  4. Scroll (geser) layar ke arah bawah, hingga anda menjumpai "Places", "Tags me at a place", dan "Comments on my visits to places".
  5. Hilangkan tanda centang pada box di sebelah kanan "Tags me at a place", dan "Comments on my visits to places".
  6. Scroll layar lagi ke bawah, klik "Save Changes" untuk menyimpan perubahan yang telah anda lakukan. Jangan lupakan langkah ke-6 ini karena jika tidak di "Save", settingan Places akan kembali aktif.
  7. Tidak ada langkah ke-7. Akan muncul tulisan "Your changes have been saved" di bawah tab Settings. Sekarang, fitur Facebook Places telah anda matikan.
Nah, sekarang pilihan ada di tangan anda. Apakah anda akan menggunakannya atau mematikannya? Juga apakah anda akan menganjurkan teman-teman, anak-anak, atau anggota keluarga anda lainnya untuk mematikan atau membiarkan fitur tersebut. Anda juga tidak perlu cemas atau khawatir secara berlebihan. Pertimbangkan masak-masak sesuai dengan kebutuhan dan kondisi kita, termasuk kondisi lingkungan sekitar anda. Happy Facebooking. 

Statistik dan Angka Di Balik MotoGP Indianapolis 2010

Balap MotoGP di Indianapolis dipastikan akan berlangsung akhir pekan ini tepatnya tanggal 29 Agustus 2010 (lewat pukul 00:00 WIB, tanggal 30 Agustus 2010). Ada beberapa statistik dan angka-angka yang cukup menarik untuk disimak dibalik putaran MotoGP kali ini.

276 – Kemenangan Nico Terol (Team Aspar) dalam balap kelas 125cc di Brno adalah kemenangan ke 276 kalinya bagi Aprilia dalam dunia Grand Prix . Dengan begitu, Aprilia telah melampaui MV Agusta dalam hal perolehan juara dengan jumlah kemenangan 1 (satu) di atas pencapaian MV Agusta. Hal ini sekaligus menobatkan Aprilia sebagai motor non-Jepang tersukses dalam sejarah Grand Prix jika dilihat dari jumlah kemenangan yang telah dicapai. Jumlah kemenangan ini hanya mampu diungguli oleh Honda dengan 632 kali juara GP serta Yamaha dengan 458 kali juara.

50 – Kesuksesan Jorge Lorenzo menjuarai MotoGP Brno adalah kemenangan GP yang ke-50 bagi pembalap Spanyol dalam kelas puncak. Spanyol sendiri merupakan negara ke-5 yang mampu mencapai angka tersebut dalam kelas paling bergengsi di GP, setelah Italia, Amerika Serikat, Inggris, dan Australia.

34 – Tepat 34 tahun yang lalu, yaitu 29 Agustus 1976, Toni Mang, sang juara dunia ganda, meraih kemenangan perdananya di GP kelas 125cc yang berlangsung di sirkuit Nurburgring, Jerman Barat.

19 – Pembalap berkebangsaan Spanyol selalu menjuarai balapan kelas 125cc dalam 19 (sembilan belas) balapan terakhir. Pembalap terakhir yang tidak berkebangsaan Spanyol yang menjuarai balap 125cc adalah Andrea Iannone, yang menjuarai Catalan Grand Prix tahun lalu. Ini merupakan kemenangan berturut-turut yang terpanjang di kelas 125cc yang diraih oleh suatu negara selama 62 tahun sejarah balapan Grand Prix.

17 – Balapan ini merupakan Grand Prix ke-17 yang berlangsung di Amerika Serikat. Dua balapan pertama, yaitu tahun 1964 dan 1965 berlangsung di sirkuit Daytona yang terkenal. Dua belas balapan GP lainnya dilangsungkan di sirkuit Laguna Seca. Balapan ini sendiri adalah balapan ke-3 yang berlangsung di Indianapolis Motor Speedway.

14 – Empat belas pembalap pertama yang finish di kelas Moto2, Brno semuanya pernah menjuarai GP.

4 – Indianapolis adalah salah satu dari empat sirkuit dalam kalender GP tahun ini (yang sudah menyelenggarakan balapan GP) di mana Ducati belum pernah menjadi juara di kelas MotoGP. Sirkuit-sirkuit lainnya adalah Le Mans, Silverstone dan Estoril.

3 – Indianapolis adalah salah satu dari tiga sirkuit dalam rangkaian GP tahun ini (yang telah menyelenggarakan balapan) di mana Honda belum pernah menjuarai kelas MotoGP. Kedua sirkuit lainnya adalah Misano dan Silverstone.

2 – Yamaha selalu menjuarai balap MotoGP yang telah dua kali diadakan di Indianapolis circuit.

1 – Setelah Andrea Dovizioso terjatuh di Brno, kini Jorge Lorenzo adalah satu-satunya pembalap MotoGP yang selalu meraih poin dalam sepuluh balapan terakhir yang sudah berlangsung di tahun 2010.

Sunday, August 22, 2010

Buku Sekolah Elektronik (BSE) SD/MI Kelas 5

BSE di halaman ini: Bahasa Indonesia Membuatku Cerdas-Edi Warsidi, Bahasa Indonesia 5-Sri Murni, Bahasa Indonesia 5-Umri Nur'aini, Ilmu Pengetahuan Sosial 5-Reny Yuliati, Ilmu Pengetahuan Sosial 5-Siti Syamsiah, Ilmu Pengetahuan Sosial 5-Endang Susilaningsih, IPA 5 Salingtemas-Choiril Azmiyawati, Ilmu Pengetahuan Alam 5-Heri Sulistyanto, Matematika 5-RJ. Soenarjo, Gemar Matematika 5-Y.D. Sumanto, Mari Belajar Pendidikan Kewarganegaraan 5-Najib Sulhan, Pendidikan Kewarganegaraan 5-Setiati Widihastuti.

Bahasa Indonesia Membuatku Cerdas 5
Edi Warsidi, Farika

DOWNLOAD
Bahasa Indonesia 5
Sri Murni, Ambar Widianingtyas

DOWNLOAD
Bahasa Indonesia 5
Umri Nur'aini, Indriyani

DOWNLOAD
Ilmu Pengetahuan Sosial 5
Reny Yuliati, Ade Munajat

DOWNLOAD
Ilmu Pengetahuan Sosial 5
Siti Syamsiah, Sri Utami R., Sutono, Sri Sadiman, Sutrisno, Abdul Kharis A.

DOWNLOAD
Ilmu Pengetahuan Sosial 5
Endang Susilaningsih, Linda S. Limbong

DOWNLOAD
IPA 5 Salingtemas
Choiril Azmiyawati, Wigati Hadi Omegawati, Rohana Kusumawati

DOWNLOAD
Ilmu Pengetahuan Alam 5
Heri Sulistyanto, Edi Wiyono

DOWNLOAD
Matematika 5
RJ. Soenarjo

DOWNLOAD
Gemar Matematika 5
Y.D. Sumanto, Heny Kusumawati, Nur Aksin

DOWNLOAD
Mari Belajar Pendidikan Kewarganegaraan 5
Najib Sulhan, Nafich, Yamini, Asmunah

DOWNLOAD
Pendidikan Kewarganegaraan 5
Setiati Widihastuti, Fajar Rahayuningsih

DOWNLOAD

Friday, August 20, 2010

Another Security Measure Taken by Facebook

Saya sangat terkejut ketika mendapat pesan ini tadi pagi dan saya segera mengganti foto profil saya. Saya tidak dapat membayangkan berapa banyak akun yang akan kena blokir oleh Facebook dengan aturan tersebut. Meskipun sebagian besar foto profil Facebookers adalah  foto yang mewakili mereka sendiri atau keluarganya, masih banyak pula dari mereka yang mnggunakan foto tokoh-tokoh anime, kartun, atau film, bahkan bendera dan simbol-simbol lainnya. Saya akhirnya merasa bahwa hal ini penting sekali untuk diketahui para Facebooker agar mereka bisa berhati-hati. Terjemahan pesannya kira-kira sebagai berikut:

"Lou Cypher 19 Agustus  4:06  Menjawab:

Sebaiknya foto profile-mu yang wajar-wajar saja dan pasang yang asli untuk beberapa hari ini. Berikut e-mail yang dikirim ke sebuah akun yang diblokir."

"Hi,

Akun anda telah kami blokir karena kami yakin bahwa anda tidak memberikan gambaran yang asli tentang diri anda di Facebook. Akun palsu merupakan pelanggaran terhadap Pernyataan Hak dan Tanggung Jawab. Semua akun harus mematuhi aturan sebagai berikut:
  • Anda harus memberikan nama depan dan belakang (nama lengkap) yang asli.
  • Dilarang meniru seseorang atau sesuatu.
  • Profil yang dibuat untuk mewakili selebriti, binatang peliharaan, ide/gagasan, atau benda mati lainnya tidak diperbolehkan.
  • Profil yang ditujukan untuk kegiatan spamming atau pelecehan terhadap orang lain tidak diperbolehkan.

Para pengguna Facebook ingin berinteraksi dengan teman-teman dan orang-orang yang nyata yang mereka kenali di dunia nyata. Akun palsu dapat merusak integritas lingkungan (Facebook), karenanya kami melarangnya dari situs ini.

Sayang sekali kami tidak dapat mengaktifkan kembali akun tersebut dengan alasan apapun, kami juga tidak akan memberikan informasi lebih jauh lagi tentang pelanggaran yang anda lakukan serta sistem yang kami terapkan. Keputusan ini final dan tidak dapat diganggu-gugat.

Terima kasih atas pengertian anda."

"Lou Cypher August 19 at 4:06am Reply

You might want to lay low on profile pictures and have your real one up for a few days. Here's an email that was sent out to a banned account."

"Hi,

Your account has been disabled because we have determined that you are not representing yourself authentically on Facebook. Fake accounts are a violation of our Statement of Rights and Responsibilities. All accounts must abide by the following policies:
  • You must provide your real first name and last name.
  • Impersonating anyone or anything is prohibited.
  • Profiles created to represent celebrities, pets, ideas, or inanimate objects are strictly prohibited.
  • Profiles created for the purpose of spamming or harassing others are strictly prohibited.

People on Facebook want to interact with their real friends and the people they know in the real world. Since fake accounts can damage the integrity of this environment, they are not allowed to remain on the site.

Unfortunately, we will not be able to reactivate this account for any reason, nor will we provide further information about your violation or the systems we have in place. This decision is final and cannot be appealed.

Thanks for your understanding."


Thursday, August 19, 2010

Wawasan Kebangsaan Sebagai Solusi Krisis Nasional

Di "Nasionalisme Setelah 65 Tahun Indonesia Merdeka", kita sudah melihat adanya fenomena merosotnya semangat nasionalisme di tengah krisis multi-dimensi yang tengah melanda masyarakat kita akhir-akhir ini. Kita setidaknya bisa menyimpulkan bahwa salah satu penyebab penurunan kualitas dan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara adalah melemahnya konsep wawasan kebangsaan dalam berbagai aspek kehidupan modern sekarang ini. Dengan demikian, konsep wawasan kebangsaan yang terwujud dalam implementasi nilai-nilai dasar wawasan kebangsaan diharapkan akan dapat menjadi solusi bagi kita untuk bangkit dari keterpurukan nasional akibat krisis multi-dimensi tersebut.

Konsep Wawasan Kebangsaan
Konsep wawasan kebangsaan sebenarnya telah tercetus pada waktu diikrarkannya Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 sebagai tekad perjuangan bangsa yang merupakan konvensi nasional tentang pernyataan eksistensi bangsa Indonesia yaitu: satu nusa, satu bangsa, dan menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia.
Wawasan Kebangsaan adalah suatu wawasan yang mementingkan kesepakatan, kesejahteraan, kelemahan, dan keamanan bangsa sebagai titik tolak dalam berfalsafah berencana dan bertindak. (Parangtopo, 1993)
Sebagai suatu cara pandang, wawasan kebangsaan menentukan cara suatu bangsa mendayagunakan kondisi geografis negaranya, sejarah, sosial budaya, ekonomi, dan politik serta pertahanan dan keamanan dalam mencapai cita-cita dan menjamin kepentingan nasionalnya. Wawasan ini juga menentukan bagaimana bangsa itu menempatkan dirinya dalam tata cara berinteraksi dengan sesama bangsanya serta dalam pergaulan dengan bangsa-bangsa lain di dunia internasional.

Dalam wawasan kebangsaan, terkandung komitmen dan semangat persatuan untuk menjamin keberadaan dan peningkatan kualitas kehidupan bangsa. Selain itu, wawasan kebangsaan menghendaki pengetahuan yang memadai tentang tantangan masa kini dan mendatang serta berbagai potensi yang dimiliki bangsa.

Nilai wawasan kebangsaan yang terwujud dalam persatuan dan kesatuan bangsa memiliki 6 (enam) dimensi manusia yang bersifat basic dan fundamental, yaitu;
  1. Penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan Yang MahaKuasa,
  2. Tekad bersama untuk berkehidupan kebangsaan yang bebas, merdeka, dan bersatu,
  3. Cinta tanah air dan bangsa,
  4. Demokrasi atau kedaulatan rakyat,
  5. Kesetiakawanan sosial,
  6. Masyarakat adil dan makmur.

Pentingnya Penerapan Nilai-Nilai Dasar Wawasan Kebangsaan
Apabila kita menelaah kembali satu-persatu masalah yang telah dan sedang terjadi di negara kita akhir-akhir ini, kita akan dapat melihat dengan jelas pentingnya pemahaman konsep dan penerapan nilai-nilai wawasan kebangsaan di negara kita.

Sebagai contoh, maraknya kemaksiatan di tengah masyarakat serta korupsi dan manipulasi dikalangan pejabat terjadi karena menurunnya moral keagamaan bangsa kita. Meskipun negara kita adalah negara dengan jumlah pemeluk agama Islam yang tertinggi di dunia, nilai-nilai keTuhanan masih berupa ritual yang dipahami sebatas simbol dan belum menjiwai perilaku keseharian masyarakat maupun para petinggi negara kita.

Contoh-contoh nyata lainnya adalah lepasnya Timor-Timur dari pangkuan Republik Indonesia, insiden-insiden bernuansa makar yang terjadi di Papua, Aceh, dan Maluku, kerusuhan etnis di Sampit dan Ambon, serta terorisme yang sedang menghangat akhir-akhir ini. Bagaimana mungkin seorang anak bangsa mau melakukan pemboman di negeri sendiri dan mengorbankan saudara sebangsa, jika mereka memiliki rasa cinta tanah air yang tinggi? Yang juga mengherankan adalah munculnya golongan-golongan radikal yang tidak lagi menghormati Pancasila sebagai dasar negara dan sang Merah Putih sebagai bendera nasional, padahal di satu sisi, kepentingan dan keselamatan mereka dijaga dan dihormati oleh negara. Inilah akibat dari hilangnya tekad kebersamaan sebagai suatu bangsa dan rasa cinta tanah air sehingga kepentingan golongan menjadi suatu hal yang harus diperjuangkan di atas kepentingan negara dan masyarakat.

Pengkhianatan terhadap kedaulatan rakyat yang membawa kerusakan terhadap kehidupan demokrasi juga merupakan hal yang biasa terjadi saat Pemilihan Umum berlangsung. Kesetiakawanan sosial juga telah semakin luntur. Masyarakat yang adil dan makmur masih belum terwujud ditandai dengan masih tingginya kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin.

Untuk mengatasi dan mencegah semua masalah tersebut di atas, penanaman dan penguatan konsep yang diwujudkan dengan penerapan nilai-nilai dasar wawasan kebangsaan menjadi agenda yang harus segara dilakukan jika kita ingin menyelamatkan bangsa dan negara kita. Dalam menerapkan konsep wawasan kebangsaan, Seminar Pendidikan Wawasan Kebangsaan (1993) mengemukakan perlunya 2 (dua) aspek sebagai berikut:
  1. Aspek Moral, mensyaratkan adanya perjanjian diri (commitment) pada seseorang atau masyarakat untuk turut bekerja bagi kelanjutan eksistensi bangsa dan bagi peningkatan kualitas kehidupan bangsa.
  2. Aspek Intelektual, menghendaki pengetahuan yang memadai mengenai tantangan-tantangan yang dihadapi bangsa serta potensi-potensi yang dimiliki bangsa.
Konsep tanpa adanya komitmen untuk bertindak ibarat mimpi di siang bolong. Karena itu, harus ada suatu gerakan moral berskala nasional, entah apapun namanya, resmi maupun tidak resmi, sebagai suatu statemen nasional untuk bersama-sama mendukung serta menerapkan nilai-nilai wawasan kebangsaan. Media-massa sebagai penyalur informasi memegang peranan penting dalam hal ini dan harus memiliki komitmen tinggi terhadap pemulihan semangat nasionalisme. Kebebasan pers harus dimaknai secara bertanggung-jawab, sehingga konsep wawasan kebangsaan selalu tersosialisasikan dengan baik kepada masyarakat. Hal yang terasa sepele namun cukup bermakna misalnya adalah penayangan film-film dokumenter tentang perjuangan bangsa, serta pemutaran lagu-lagu nasional di televisi pada jam-jam yang cukup efektif untuk membentuk karakter dan kesadaran masyarakat tentang kehidupan berbangsa dan bernegara.

Komitmen yang bersungguh-sungguh dari segenap lapisan dan komponen bangsa secara langsung maupun tidak langsung akan menggugah semangat dan intelektualitas bangsa sehingga mereka selalu waspada dan siap menghadapi tantangan-tantangan era modern dengan segenap potensi yang ada. Pada gilirannya, penerapan konsep wawasan kebangsaan yang baik akan dapat membentuk manusia Indonesia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya sebagai obyek dan sekaligus subyek usaha pembangunan nasional menuju masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Amin.


Referensi:
  • "Pendidikan Wawasan Kebangsaan", Tantangan dan Dinamika Perjuangan Kaum Cendekiawan Indonesia, Lembaga Pengkajian Strategi dan Pembangunan & PT Gramedia Widia Sarana Indonesia, Jakarta, 1994.
  • Dimensi Rohani dan Wawasan Kebangsaan Dalam Pengembangan Sumber Daya Manusia, Bintoro Tjokroamidjojo, 1996.
  • Wawasan Kebangsaan Dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia, Drs. Idup Suhady, M.Si dan Drs. A.M. Sinaga, M.Si, 2006.

Tuesday, August 17, 2010

Nasionalisme Setelah 65 Tahun Indonesia Merdeka

Suatu pagi dalam sebuah upacara bendera di sekolah, saat pengibaran bendera Merah Putih sedang berlangsung dan hampir seluruh peserta upacara memberikan hormat kepada bendera nasional kita, banyak di antara siswa, baik putra maupun putri, tampak bergurau dan tertawa cekikikan, seolah sang Dwi Warna tidak memiliki arti apa-apa.

Ketika hal itu saya utarakan kepada seorang teman yang juga guru dari daerah dan sekolah lain, jawaban yang saya terima justru lebih mengejutkan. Dia berkata, "Di tempat saya, jangankan murid, gurunya pun asyik bergurau dan ngobrol saat penghormatan bendera berlangsung." Menyedihkan bukan?

Hal ini cukup jauh berbeda jika dibandingkan dengan masa ketika saya masih duduk di bangku sekolah. Setiap kali bendera Merah Putih sedang dikibarkan dalam upacara bendera, bisa dikatakan seluruh peserta termasuk murid-murid yang bisa dibilang bandel sekalipun segera memberikan penghormatan dengan khidmat. Bahkan seorang teman pernah berkata bahwa dia selalu merasa sedih setiap hening cipta karena dia selalu teringat wajah seorang pahlawan yang gugur dalam perang kemerdekaan yang pernah dilihatnya dalam film dokumenter di TV.

Itu dulu. Sekarang? Kalimat "Untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur demi kemerdekaan Indonesia, ...." bagi telinga kita tak ubahnya bagai suatu kalimat klise sebagai bagian dari rutinitas wajib yang tak bermakna. Mari kita ingat lagi, apakah yang sedang kita pikirkan saat kita menundukkan kepala dan mengheningkan cipta? Apakah kita benar-benar merenungkan betapa besar pengorbanan dan jasa para pahlawan bangsa demi kemerdekaan dan kedaulatan negara? Apakah kita pernah memikirkan betapa beruntungnya kita yang terlahir dan hidup di alam merdeka tanpa harus berjuang mengangkat senjata dan mempertaruhkan nyawa di antara desingan bom dan peluru?

Saya pernah merasa kecewa sekaligus sedih ketika dalam sebuah curah pendapat di Facebook, seorang mahasiswa yang aktif dalam sebuah organisasi agama melontarkan pemikiran yang secara tidak langsung menafikan keberadaan negara dan pemerintahan Indonesia. Secara singkat, saya bisa meraba bahwa baginya tidak ada nasionalisme dalam agama.

Pada umumnya, kehidupan bermasyarakat dan bernegara di era modern seperti sekarang memang bisa dikatakan sudah jauh dari semangat kebersamaan dan nasionalisme yang dulu pernah menjadi motor penggerak perjuangan para pahlawan kita. Konsep wawasan kebangsaan semakin pudar dan tenggelam dalam hiruk pikuk era globalisasi.

Jangan merasa kaget ketika dalam sebuah reality show TV swasta, seorang artis penyanyi bertubuh montok dan sexy tidak bisa lagi menyanyikan lagu-lagu nasional yang dulu pernah dihapalnya di bangku SD. Jangan pula merasa heran kenapa anak-anak SD jaman sekarang tidak lagi bisa menyanyikan lagu-lagu nasional kita. Mereka lebih fasih menyanyikan lagu-lagu pop ketimbang lagu-lagu perjuangan yang memupuk semangat nasionalisme. Jangan salahkan anak-anak kita jika mereka lebih menyukai film Ipin-Upin buatan Malaysia daripada sinetron-sinetron anak Indonesia yang hanya menyajikan kekuatan-kekuatan aneh, mahluk-mahluk konyol, serta pembodohan dan hal-hal tak masuk akal lainnya.

Mengapa film-film yang mendidik seperti si Unyil atau Jalan Sesama masih sangat sedikit dibanding film-film anak tak bermutu? Karena memang kebanyakan produser film dan lagu hanya memikirkan segi keuntungan daripada nilai-nilai moral dan nasionalisme yang harus disampaikan kepada anak-anak. Sebagai hasilnya, anak anak kita tumbuh menjadi generasi Naruto, generasi 1 Piece, generasi Sponge Bob, atau generasi Ipin-Upin yang hampir tidak lagi mengenal identitasnya sebagai anak Indonesia.

Saat menonton berita di TV, wajah "terkini" nasionalisme bangsa kita akan semakin jelas tergambar di depan mata. Jangan bertanya arti nasionalisme kepada sosok semacam GT yang tanpa rasa bersalah tega mengemplang pajak yang terkumpul dari hasil jerih-payah rakyat. Jangan juga bertanya apa arti solidaritas sosial kepada para anggota dewan yang dengan enaknya berlenggang-kangkung mengadakan kunjungan ke sana-sini di saat banyak rakyat miskin yang babak-belur dihajar oleh si Eko (baca: ekonomi). Jangan juga bertanya tentang kepentingan rakyat kepada mereka karena di saat rapat, mereka ternyata lebih memilih tidur atau bolos, bahkan nonton film porno secara sembunyi-sembunyi daripada memikirkan nasib rakyat yang dulu dirangkulnya erat-erat saat kampanye legislatif.

Juga tidak perlu heran jika anda melihat para pembesar parpol yang tidak kebagian "kursi" ramai-ramai mengkritik pemerintah yang dianggapnya tidak becus, seolah mereka lupa bahwa ketika masih duduk di "kursi"nya yang empuk, mereka adalah bagian dari "ketidak-becusan" itu. Jika anda pindah saluran TV, janganlah kaget jika anda melihat mahasiswa fakultas A tawuran dengan mahasiswa fakultas B tanpa alasan yang jelas dan masuk akal, tak ubahnya murid-murid SD di jaman saya sekolah dulu. Jangan lagi kaget jika berita selanjutnya adalah tentang sekelompok pemuda kampung X yang tawuran dengan kelompok pemuda kampung Y hanya gara-gara bersenggolan saat berjoget dalam suatu konser dangdut, seolah mereka lupa bahwa dulu para pemuda dari Sabang sampai Merauke pernah berikrar bahwa mereka adalah SATU BANGSA dan SATU TANAH AIR.  Janganlah heran jika kelak, generasi mendatang akan menginjak-injak sang Merah Putih demi terpuaskannya gaya hidup atau terwujudnya faham yang mereka anggap benar.

Saya benar-benar tidak bisa membayangkan perasaan para pejuang kemerdekaan (jika masih hidup) yang telah rela meletakkan nyawanya diujung senjata dan berkorban demi sang Merah Putih. Kita seolah tidak lagi mampu menghargai pengorbanan mereka. Bahkan mungkin kita telah lupa bahwa mereka pernah ada, pernah hidup di suatu masa, lalu gugur demi kemerdekaan yang ternyata tidak mampu kita maknai dengan baik.

Ya Allah, ampunilah kami atas ketidak-mampuan kami dalam menghargai dan membalas jasa para pahlawan kami.

Saturday, August 14, 2010

Buku Sekolah Elektronik (BSE) SD/MI Kelas 4

BSE di halaman ini: Bahasa Indonesia Membuatku Cerdas-Edi Warsidi, Bahasa Indonesia 4-Kaswan Darmadi, Bahasa Indonesia 4-Umri Nur'aini, Ilmu Pengetahuan Alam 4-Budi Wahyono, Ilmu Pengetahuan Alam 4-Heri Sulistyanto, Ilmu Pengetahuan Alam 4-Poppy K. Devi, Cerdas Pengetahuan Sosial-Retno Heny Pujiati, Ilmu Pengetahuan Sosial 4-I. S. Sadiman, Ilmu Pengetahuan Sosial 4-Tantya Hisnu P., Ayo Belajar Matematika-Burhan Mustaqim, Pendidikan Kewarganegaraan 4-Prayoga Bestari, Pendidikan Kewarganegaraan 4-Ressi Kartika Dewi, Pendidikan Kewarganegaraan 4-Sarjan.

Bahasa Indonesia Membuatku Cerdas 4
Edi Warsidi, Farika

DOWNLOAD
Bahasa Indonesia 4
Kaswan Darmadi, Rita Nirbaya

DOWNLOAD
Bahasa Indonesia 4
Umri Nur'aini, Indriyani

DOWNLOAD
Ilmu Pengetahuan Alam 4
Budi Wahyono, Setyo Nurachmandani

DOWNLOAD
Ilmu Pengetahuan Alam 4
Heri Sulistyanto, Edy Wiyono

DOWNLOAD
Ilmu Pengetahuan Alam 4
Poppy K. Devi, Sri Anggraeni

DOWNLOAD
Cerdas Pengetahuan Sosial
Retno Heny Pujiati, Umi Yuliati

DOWNLOAD
Ilmu Pengetahuan Sosial 4
I. S. Sadiman, Shendy Amalia

DOWNLOAD


Ilmu Pengetahuan Sosial 4
Tantya Hisnu P., Winardi

DOWNLOAD
Ayo Belajar Matematika
Burhan Mustaqim, Ary Astuty

DOWNLOAD
Pendidikan Kewarganegaraan 4: Menjadi Warga Negara Yang Baik
Prayoga Bestari, Ati Sumiati

DOWNLOAD
Pendidikan Kewarganegaraan 4
Ressi Kartika Dewi, Sunny Ummul Firdaus, Wahyuningrum Widayati

DOWNLOAD
Pendidikan Kewarganegaraan 4: Bangga Menjadi Insan Pancasila
Sarjan, Agung Nugroho

DOWNLOAD